Pacar lebay dan cewek gombal misterius
Bumi terasa hangat saat Dodo keluar dari bagunan
beratapkan daun ijuk, apalagi tepat di depan jalan diseberang bagunan yang
sebentar ini ia singgahi. berdiri tegak sebuah tubuh aduhai molek nian, yang
terbungkus dengan baju kaos abu-abu berpernak-pernik dan blazer lengan pendek
berwarna hitam kecoklatan. Membuat
mata-mata lelaki di buat terbakar akan pancaran keindahannya.
Dia seorang
perempuan, ibarat artis ia mirip marshanda. Namun kalau dia terlihat bercakak
pinggang sambil melotot kearah Dodo, ia ibarat mulan jameela kejeduk tembok. Oh
my god, nesha. Teriak batinnya. Ia lupa
kalau nesha akan dia jemput dari terminal.
“ dodo, aku capek.. kamu kok gak jadi jemput
aku. Katanya kamu mau jempuuut” ucapnya sambil merintih kelelahan, mukanya di
tekuk. Lalu tangannya menyeret lengan ku sambil ber ucap “ayo antar aku
kesalon, terus traktir aku di restoran, habis itu kita kebutiq” ucapnya seperti
gaya bicara cherly belle
“tapi, sebentar
lagi teman ku datang, ngajak aku main futsal nesha sayang”
“oh gara-gara
futsal, kamu gak jemput aku. Pokoknya aku gak mau tau, ini sebagai ganti kamu
gak jemput akuuu” bibirnya mancung kedepan
Dengan rasa
terpaksa, muka dodo tertekuk mengiyakan ajakkannnya. nesha meminta dodo , untuk
menemaninya ke salaon.’ Ahh.. lagi-lagi salon!, gak ada hal yang lebih buruk
lagi selain salon?’rintih batin dodo.
Setibanya di salon
mereka bertemu nince, seorang tukang salon langganan nesha yang setengah laki alias
banci. Kumis-kumis tipis ditemani lipglos di atas bibirnya, membuat dodo mual
dan seakan mau muntah. nince datang menyapa, sembari tanganya membelai dada
dodo. Otomatis, badan dodo bergetar seakan jijik atas perlakuan nince yang
manja.
“ihh..apaan sih
lo”ucap dodo ketus sambil mendorong badan nince
“sayang jangan gitu
dong, diakan nyambut kita” ucap nesha sambil melangkah menuju tempat krimbat
Tidak terasa sudah
satu setengah jam aku menunggu. beberapa majalah sudah habis terbaca, hingga
brosur-brosur yang memuat harga layanan salon pun dodo lahap abis. Rasa kantuk
mulai menyambangi pemuda bertubuh atletis itu. Dengan perlahan bola matanya
mulai menutup penglihatan dodo.
“Byarrr” semburan
air datang membasahi muka hingga meluncur ke baju. Terlihat nince berdiri di
depan. Dengan senyum sumringah ia berkata” mas, mbak neshanya udah nunggu
diluar. Dari tadi dibangunin susahsih, makanya akika banjur” amarahku seakan
naik, namun aku tidak ambil pusing,
aku segera melengkah keluar meninggalkan
nince.
Di luar nesha duduk
di anak tangga paling bawah, duduk sambil menelfon. Sekejap saja aku
menghampirinya. Ia langsung mematikan hape terburu-buru, nesha tersenyum sambil
ternganga melihat tubuh ku basah kuyup. Aku hanya diam, namun dia berkilah
bahwa ia hanya menyuruh nince membangunanku. Tangannya dengan manis melap muka ku
dengan sehelai sapu tangan
“maafin nince ya
beb” ucapnya mengakhiri tingkahnya yang menurutku agak aneh, lagi-lagi aku
menggangguk mengiyakan.
Perjalanan menuju
restoran di mulai, di perjalanan tak satu kalimat kukeluarkan. Beda dengan
nesha, beratus-ratus kata telah ia semburkan lewat hape touch screennya. Ia
bilang telpon dari temannya. Aku mengutuk dalam hati. Lalu vespa kukebut.
Direstoran, nesha
sibuk dengan aplikasi hapenya. ‘Agrrrr..’ aku sudah muak. Dengan cepat ku lahap habis
mie kwi tiaw yang ku pesan. Segera aku melangkah menuju wc, tetap saja nesha
masih mengutak-atik benda komunikasinya.
*****
Vespa mendarat di
butiq. aku tidak mau masuk, sebab wanita terlalu banyak di sana. Takut aku di
krubutin sama mereka, ungkapku narsis.
“masuk yukk sayang”
“males ah” jawabku
menggeleng kepala
“dodooo.. ayooo”
Aku masih terdiam,
celingukan mencari warung, agar bisa mencari alasan untuk membeli minuman.
“dodo kamu lihat
apasih? Ooh kamu jahat, kamu lihat cewek yang cantik itu ya”
“kamu yang jahat,
aku haus. Mau beli minum dulu”
“bohong, bilang aja
mau ngejar cewek itu.”
“terserah kamu lah,
bawel”
Dengan rasatak acuh
dodo pergi meninggalkan nesha, raut muka bahagia malah di tunjukkan oleh nesha.
Wanita berambut lurus itu berjalan bak putrid raja masuk ke sebuah bangunan
bertingkat dua yang bernama ‘bu tiek buetique’.lagi-lagi iya bersosial media
ria dengan benda elektronik kesayangannya.
***
Dengan hape
ditangan kiri dan satusuap sendok baso ditangan kanan, dodo melampiaskan
kekesalannyaterhadap pacarnya. Tanpa ia ketahui, seseorang cewek memandangnya
keheranan. Dalam benaknya serasa pernah melihat dodo. Memangsih muka dodo
sediit pasaran, ia hanya bergaya saat match futsalnya di gelar.
“mas…”
“ya mbak, saya
masih makan. nanti aja saya bayarnya”
“hah? Maaf mas..
sa..”
“mbak gak ngerti
bahasa indonesia ya? “
“maaf, coba mas
lhat saya dulu. Baru ngomong”
“gue sibuk” ucap
dodo, sembari membenarkan rambutnya ia melihat wanita cantik di hadapannya
“bidadari” tambahnya
“hah? siapa
bidadari?”
“kamu, ehh.. gak.
Maaf .. anu.. tadi…” ucap dodo terbata-bata
Wanita itu
hanyatersenyum, melihat dodo kehilangan kata-kata, dan sesekali mengalihkan
pandangannya ke hadapan dodo. Dodo mulai ke GRan, wajahnya memerah tak karuan.
Terlihat ia semakin salah tingkah.
“ aku lihat mas
kayaknya lagi frustasi nih”
“ahh gak, perasaan
mbak aja kali”
“jangan panggil
mbak dong mas, panggil aja vanes”
“oh..ia vanes,
kalau gitu panggil aja gue dodo”
ucapnya sambil mengulurkan tangannya, yang
langsung dib alas dengan tindakan oleh vanes. Vanes tertawa tertahan. Dodo
malah keheranan
“apa yang lucu?”
“gak, nama kamu aja
lucu”
“iya, kalau dikasih
L di belakangkan jadinya dodol kan” ucapnya cengenesan
“gak, ayam kakek ku
namanya dodo loh mas”
Dodopun mendehen,
isyarat tanda tak enak hati. vanespun menyadarinya, tapi tetap saja rasa
gelinya terhadap nama dodo terus memuncak. Gelas yang tadinya penuh langsung di
lahap habis oleh dodo, seperti iklan minuman kesehatan yang ada di tv.
***
Waktu makin
berlalu, nesha masih berada di dalam beautique. Terpaksa dodo harus meladeni
setipa ocehan vanes. Cengengesan, atau pun tersenyum, bahkan anggukan yang
dapat dodo sampaikan untuk menjawab setiap baris perkataan vanes.
Seperti seorang
pejuang saja, vanes terus-menerus menggempur setiap pertahanan kalemnya sikap
dodo. Dodo tetap dengan pendiriannya
yangtak banyak omong, ia masih kesal dengan harinya, dengan seseorang yang
sedang bersamanya dan pacarnya.
Namun, sekajap saja
telontar sebuah tanya keluar dari mulut gadis berambut agak pirang itu.
“mas masih nganggur
ya, saya mau kok buka lowongannya”
“hekk…. Kamu kok
nanya gitu, kayak gak laku aja”
“eh.. mas, jaga
omongan tuh, aku ngomong baik-baik”
“ya situ ngomongnya
kayak gitu”
”dasar baji***n”
ucap vanes dan berlalu meninggalkan dodo. Namun berhenti, vanes membalikan
badan dan kembali berjalan menuju dodo kembali.
“mau apa lagi?”ucap
dodo
‘plak’ satutamparan
mengenai pipi kiri dodo, ‘byurr’ satu gelas berisi air pun tumpah membasahi
kepalanya. Wajah yang kenasiram tadi tidak membuat hati dodo lembek. Namun muka
amarahnya sekarang muncul membara-bara. Ia kepalkan tangannya tampak
berurat-urat seperti ingin putus. Dan ‘brakkkk’ satu meja pun terbelah berkat
hantaman tangan kanan dodo.
*****
Senja mulai menepi,
nesha masih betah didalam boutique. Kaki dodo sudah gatal I igin beranjak dari
duduknya. Ia memutuskan untuk mengecek ke dalam. Siapa tau nesha menyadari
dirinya yang sudah bosan menunggunya.
Tapi. Boutique
tertutup trail besi, menandakan boutique
tutup. Dodo meradang, kaleng yang terlentang di jalan di sepaknya sampai jauh.
Ia sangat kecewa atas perlakuan pacarnya. Apa ini tebusan karena tak
menjemputnya di terminal? Ungkapnya dalam hati.
Ada panggilan masuk
di hp dodo, nesha yang menghubunginya.
“halo do, kamu
dimana sekarang”
“buat apa nanya
lagi?”
“maaf sayang, aku
Cuma…”
Tut tut tut. Dodo
kesal, ia matikan sambungkan teleponnya. Ia melengkah menuju sepeda motornya
dan berangkat meninggalkan boutique. Di perjalanannya, dodo masih
membayangkannya. Ia tak habis fikir dari tindakan pacarnya. Dengan cewek gombal
misterius yang menghampirinya. Dan hari-hari sialnya ini.
Hapenya masih
berdering, sengaja tidak ia jawab supaya nesha tau betapa kesalnya ia hari ini.
Ia turun dari sepeda motorya dan masuk ke rumahnya. Suasana kelam dalam
rumahnya, sepi serasa tak berpenghuni.
“kejutttannn…”
Dodo kaget, nesha
vanes cewek gombal tadi, nince juga ada disana.
“selamat hari jadi
yang ke-1 pacarannya mas.. maafin akika ngebanjur mas tadi. Cucok deh di kerjain”ucap nince
“selamat hari jadi
mas, maaf tadi sampai harus buat mas ngeluarin kata-kata kasar ” ucap vanes
yangtak lain adalah adiknya nesha
“maaf ya sayang,
buat kamu kesal. Tadi beneran aku Cuma mau bikin kejutan”
“kalian anggap ini
kejutan?puas kalian ngerjain aku? Puas?”
ketakutan, bulu kuduk berdiri dan merasa
bersalah itu yang mereka rasakan saat ini. Apalagi vanes, air matanya mulai
menetes. Dodopun tersenyum, dan tertawa.
“hahaha.. yang
ngerjain ternyata bisa dikerjain” ucap dodo
“ish.. kamu jahat
do” ucap nesha sambil tersenyum sambil masih terisak atas rasa bersalahnya.
Pundak dodo di pukul-pukul pelan dan di cubit. Dan diakhiri pelukan mesra. Tak
ingin kalah nince dan vanes pun segera memeluk mereka bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar