MAAF AKU HARUS BALAS DENDAM
Gang sempit yang
becek menjadi saksi bisu kejar-kejaran antara sekelompok pemuda dengan
sekelompok preman. Bunyi picrat-picrat air yang menggenang menjadi irama adu
cepat kejar-kejaran. Satu diantara sekitar belasan preman itu berteriak,
memecahkan suasana hening malam yang sepi. Tak lupa senjata yang menyerupai
tongkat baseball itu mereka acung-acungkan seakan-akan ingin menghabisi tiga
pemuda yang berlari itu
Malam
yang mengerikan buat trio pemuda itu, nyawa mereka akan melayang jikalau kalah
berlari.
Pos satpam. Tertulis di
plang kecil dan tergantung pada atap bangunan ukuran 3x2 itu. Namun, pos yang
menjadi harapan satu-satunya hanyalah tempat berisikan tv yang bernyawa ketika
dua satpam gempal terlelap tidur. Tak hayal bulu kuduk trio itu berdiri, di
barengi nafas letih mereka yang tidak letih-letihnya bersahutan.
“wah satpam edan, bukannya jaga keamanan, malah asik
tiduran ” ucap obeth yang bertubuh atletis dengan nafas ngos-ngosan
“anjrit itu preman, pake acara ngejar kita.
Gara-gara lu mal, kita jadi kena sialnya” ucap ben yang merukuk terengah-engah
“eh ben, lo nyalahin gue ? sebenarnya lo niat bantu
gak? Ucap jamal setengah bentak
“eh bego, lo berdua pada berantem. Udah sembunyi saja
dalam sini, itu preman-preman udah dekat”
Mereka sepakat
bersembunyi dalam pos satpam, dengan konstruksi bata ruangan yang sedang mereka
tempati terbilang kuat. Jamal sembunyi dengan mengenakan sarung sambil
tengkurap di atas dipan. Obet menjorok di bawah dipan. Sedangkan ben di balik tanaman
kaktus yang dapat menutupi wajahnya. Secara menyuluruh mereka hampir tak
terlihat dari luar.
Para preman bertampang
sangar, berhenti tepat di depan pos satpam. Ketua pengejaran mencurigai pos
ini. Dua anggota preman diperintahkan masuk. Menggeledah pos satpam yang mereka
tempati. Sedangkan sisanya berpencar.
Detak jantung jamal
berdegub kencang. Ketika salah seorang
preman berusah membalikan badan jamal yang sedang tengkurap. ‘dugs’ gerakan
reflek kaki jamal berhasil mendepak perut si preman tersebut. Ia terjatuh. Tanpa
sengaja ben menyenggol pot kaktus tadi
dan “akhh” kaktus itu tepat mengenai mukanya. Alhasil preman itu dapat di
lumpuhkan.
Tinggal satu preman
lagi yang tersisa, ia mencoba mendekati jamal. Namun ada obet yang dengan sigap
menahan kaki kiri, satu preman lainnya. Sipreman itupun terjatuh, tongkat yang
ia genggam melayang ke tangan jamal. Dan ‘plakkk’ tongkat itu berayun
menghantam kepala si preman. mereka
berdua kini terkapar. Di saat trio
pemuda itu mulai tersenyum.
Jamal bangkit dengan
mengambil kampak, tongkat baseball di tangannya ia lemparkan. dengan sigap
obeth menangkapnya. Di pojok ruangan ada sapu lidi, sekarang benda itu menjadi senjata
ben. Ben cengengesan, melirik kedua temanya sambil menggengam tangkai sapu.
*****
Sementara itu di tempat
berbeda. Raisa, pacar jamal, harus
merasakan mulutnya disekap dengan lakban. Kaki beserta tangannya dibaluti
simpul tali. Diantara manusia bertubuh
kekar berisi, dan tongkat baseball yang di genggam menjadi
cirikhas mereka, raisa pun harus menerima nasibnya kini. Bahkan ia harus pula melihat
beragam senjata yang mereka genggam, seperti pedang dan kampak yang seakan
menebar ancaman pada dirinya.
Bos sang preman, tiba menampakkan diri. Pria
dengan rambut rapi itu, muncul melangkah
dalam kelamnya ruang penyekapan. Raisa super takut,bandannya bergerak-gerak
berusaha melepaskan ikatan. Namun hasilnya jelas sia-sia, ia pun terlihat
pasrah saat boss preman itu mendekat dan membelai rambut raisa.
“hai nona” ucapnya serak sembari menjambak rambut
raisa.” Malam ini indah yah” ucap ia selanjutnya”. Raisa terlihat kesakitan.
“kenapa..? Sakit? Ini belum seberapa, di bandingkan
rasa sakit hati ku” ucapnya meninggi, suara seraknya samakin serak. “kamu tau
kenapa?” raisa menggeleng takmenau. “Karena
‘pacarmu’ yang sok ‘pahlawan’ itu, telah mengijak-injak ku. Menghakimi ku saat
bentokrokan seminggu yang lalu” tambahnya.
Raisa memandangnya, kini ia mulai membuka jaket yang memakai
tudung kepala, terpampang wajah mengerikan. Dua jahitan di pelipis mata kiri.
Sembilan jahitan di bibir bawah serta kelopak mata kirinya membengkak. Saat itu
ia berbaik hati membuka lakban di mulut
Raisa, namun secara paksa. Gadis pesakitan itu sontak merasakan betapa sakitnya saat secara paksa,
lakban yang menempel di mulutnya di buka. Mukanya sembab dan mulai menangis.
“aku…. minta.... maaf....” ucap raisa
Boss preman, kini
berpura-pura terkejut. Lalu ia
tersenyum. Sekejap saja wajahnya kembali meradang dan ‘cuihh’ liur itupun terbang begitu saja, membercak di
muka gadis pesakitan itu. Raisa yang sudah pasrah hanya bisa terisak kembali
“maaf..? Lo bercanda non?” nadanya meninggi,
sekarang rambut raisa kembali di jambaknya. Ia takkuasa menahan jambakan pria
itu. “hai nona manis. Yang sedang kau nikmati ini bukan parody..” ucapnya
mengacuhkan tangis rasa sakit gadis malang itu. dengan nada meninggi ia kembali
berujar ” ..Tapi sidang illegal yang sedang kau jalani dengan nada meninggi
Raisa tertekan,
ketakutannya mengalir deras di seluruh organ tubuhnya. Bentakan kasar dan ludah pria menakutkan itu bisa
menjadi trauma mendalam di kemudian hari. Pria beringas itu bangkit. Terdengar
nada kesal mengiringi langkah kakinya.
Ia berjalan menuju
sudut ruang kelam, dengan bersinarkan sikilas cahaya lampu yang hidup dari luar
ruang tersebut. Dimana ada sebuah lemari, ia obrak-abrik lemari kayu yangsudah oleng,
tak seimbang lagi. Tangannya sibuk melempar barang-barang yang tak perlu, yang
di rasa mengganggunya. Disana ia dapatkan selembar foto, tampak ia membalikan
badan dan berlalu meninggalkan lemari kayu usang tersebut.
*****
Jamal, obeth, ben.
Mulai mencari keberadaan raisa. Yang menghilang setelah mereka pulang menonton
konser. Konser itu berubah menjadi kekacauan. Setelah jamal mencoba menghajar
satu diantara orang yang dengan sengaja menatap mereka. Namun tak dikira jamal,
aksinya itu mengundang kekesalan belasan preman, yang berdiri tidak jauh dari
orang yang nyaris ia hajar. Mereka mencoba melawan, namun pihak mereka kalah
jumlah. Raisa yang tak pandai melawan akhirnya tertangkap.
Kini mereka mempercepat
langkah. Tangan mereka. mereka gunakan mengusai-usai apa saja yang menghalangi,
entah itu kardus-kardus bekas, semak-semak tumbuhan liar hingga menjatuhkan
tong sampah yang itu semua terletak di gang-gang sempit.
Jamal makin panik,
namun fikirannya bersenandung. Mengingat masa-masa bahaginya dengan raisa, kekasinya. Terbayang
saat mereka menggengam tangan, beriringan melangkah di sepanjang pantai. Sewaktu
mereka berwisata pada waktu senggang.
Dimana mereka berlarian menghampiri ombak, dan dengan sengaja gelombang yang
bergulung menghempaskan tubuh mereka sehingga bermandikan air laut. Saat itu
mereka tak sedetikpun melepaskan genggaman, malahan tertawa manis saling
berpandangan, lalu hari itu di akhiri pelukan mesra saat senja mulai
menghilang.
Rasa prihatin dan geram bercampur seperti
adonan kue itu lahir dari hati Obeth. Ketika melihat mimik muka sobatnya sedih.
Betapa tidak, sekejap saja. Pria yang ia maksud itu menitikkan air mata. Lalu
sebuah tamparan ‘plakk’ melayang deras tepat di pipi jamal. Ya! Obeth
menghadiahi jamal, sebuah tamparan. Kini, jamal yang sedih menjadi binggung
atas tindakan sobatnya itu.
“hapus air mata lu” ucap obeth, langkah mereka pun
berhenti. “jijik gue ngelihatnya” ucap obeth terus terang
“lu gak tau perasaan gue beth, raisa sekarang entah
di mana. Entah masih bernyawa atau sudah tiada? Terus sekarang lu nampar gue?
Mau lu apa?” mata jamal menatap tajam kearah obeth. Sekarang yang terdengar hanya dengusan nafas, keluar dari hidung
masing-masing pria yang sedang bertatap tajam .
“tangis bukan cara menyelamatkan raisa. Tangis hanya
ungkapan kesedihan terjijik bagi gue” obeth menggenggam kerah kemeja yang sedang jamal kenakan.” Mana jamal yang dulu? Waktu
kita sama-sama bentrok sama anak SMA Pelita, mana sang panglima bentrokan itu?”
ucapnya sambil melepaskan kerah jamal.
Kini terbayang semua,
masa-masa mereka dengan gagahnya menyerang anak-anak pelita. Dimana jamal
menjadi momok utama penyerangan. Dimana derasanya hujan batu yang berterbangan, malahan sejengkal di atas
tengkorak kepala mereka sendiri, tak sedikitpun mereka gentar, sebelum sma
pelita lari terbirit-birit. Dan sekarang
fikiran jamal terbelah menjadi tiga persimpangan. Raisa, masa lalu, dan Obeth
yang kini sedang memancing keributan saat keadaannya labil.
Tiba-tiba, ada sebuah
energi pada diri jamal. Energi yang mengalir dari kosa kata sobat kecilnya.
Menjadi sebuah arus motivasinya, sehingga meledak jadi dorongan pada jiwa di
tubuh pemuda bernama jamal. Lantas jamal mendorong tubuh obeth, pemuda yang
sedang menampakan muka kesalnya.
“lu benar, ayo!! Kita lawan sampah masyarakat itu”
ucap jamal menggebu-gebu
“ayo!! ”jawab obeth,sambil menepuk pundak jamal
sobat kecilnya. Sementara ben terpaku menyaksikan sebuah arti persahabatan,
layaknya scane acting sebuah sinetron. Obeth hanya menatapnya sambil berkata
“kenapa lu? ”
“gak... gue bahagia endingnya kayak gini. Gue kira
lu berdua mau berantem”
“ jijik gue ngelihat lu” ucap obeth
“yee.. biasa aja beth” ucap ben sambil manyun. Jamal akhirnya
tersenyum.
*****
Malam semakin menghantui
perasaan raisa. Wajah panik yang jauh dari rasa bahagia melekat di wajahnya.
Bos preman tadi melangkah lagi, mendekati raisa. Ia kembali terancam. Matanya
reflek menutupi kisahnya malam ini.
“ini foto gue.. sebelum jahitan menusuk-nusuk muka
gue” raisa tak melihat foto itu, pria yang sedang menghakiminya kini mersa di
acuhkan. Ia emosi dan melayangkan tamparan keras berkali-kali.
Dengan berapi-api ia
berucap “sakit..? Makanya kalau gue ngomong lihat. Ya … lihat” ia kembali
menjambak rambut raisa, raisa mencoba tegar dengan menahan rasa sakitnya yang
sedang ia hadapi.
Raisa membuka mata , dan ia dapati photo seorang
pria. Tersenyum dengan baju putih berlambangkan sma pelita yang sedang pria itu
kenakan
“reno” ucapnya terkejut, yang taklain adalah mantan
pacarnya.
“iya raisa, itu aku !!”
“reno … maafkan aku, seminggu yang lalu aku ingin
melihat jamal…” raisa mencoba menyanggah.
“cemburu. Kan! Dasar hina kau, kau lah yang
menyebabkan sma pelita saling bermusuhan dengan sekolah kau” ucapanya meninggi
“gak reno.. ini Cuma salah paham”
“apa yang salah? Suaranya mulai sedikit serak setelah
sekian lama berteriak-teriak. “cara yang lu lakukan salah, gue sudah cukup
tegar sewaktu lu pergi meninggalkan hati ini” ucap ia sambil menunjuk-nunjuk
dadanya.
“aku tau aku hanya anak dari orang tua yang
sederhana. Tapi begini cara lu membuat hidup dan wajah gue hancur. ‘Shit’ cewek
picik”
Saat itu juga reno
mengeluarkan sebuah belati tajam. Sekelibat saja wajah raisa seperti kehabisan
darah, pucat dan semakin cemas. Ia coba memejamkan matanya, berharap ini hanya
mimpi di tidur malamnya.
*****
Jamal dan kawan-kawan
akhirnya berhasil menemukan markas sekelompok preman yang mengejarnya.
Kira-kira 200 meter setelah pos satpam. Tepatnya di rumah tua tak berpenghuni,
yang terletak di tengah-tengah gang. Walau gemetaran, ia berlari di ikuti ben
dan obeth yang siap dengan senjata seadanya, menyerang preman yang berdiri di
pintu utama rumah tua itu.
Pertarungan pun pecah,
jamal menghempaskan 2 preman yang berjaga di sana. Tak hayal suara kesakitan 2 preman
itu mengundang simpati dari rekanya. Alhasil belasan preman bertampang sangar
dan keji keluar bergerombolan. Jamal menerjang mereka dengan kampak yang ia
pegang. Meski sempat terkena sabitan pisau di pipinya, namun tetap ia tak tergoyahkan.
Dalam hatinya ia berkat.’ meski harus mati untuuk menyelamatkan raisa, aku mau’.
Obeth berjuang mmemukul
sebisanya dengan tongkatbaseball. Kakinya sempat tertendang, dan beberapakali
di terjang bogem mentah, namun kuatnya adrenalin dalam batin bisa mengalahkan
sampah masyarakat itu.
Dalam keadaan gelap ben memutar-mutar sapu
lidi yang ia bawa, tak terkira beberapa diantara mereka mengerang akibat
matanya tertsuk lidi. Tak sulit baginya melumpuhkan preman-preman yang
bertampang sangat arogan.
Ia dapatkan raisa dalam
ruangan gelap yang di hiasi sebersit sinar lampu. Raisa mengeluarkan darah,
perutnya di tusuk hingga beberapa kali. Jamal bergegas mencabut pisau yang
tertancap di perut raisa. Sementara obeth dan ben sama-sama berjuang bertauh nyawa,
saling melepaska tinjuan dan pukulan kepada preman yang masih bisa berdiri.
Jamal menahan perut
raisa yang mengeluarkan banyak darah, dengan telapak tangannya. Raisapun di
gendongnya keluar dari tempat gelap yang menjadi aksi adu nyawa. Ia lari ibarat
kereta kencana, ia mencoba membawa raisa menuju sebuah poliklinik yang tak jauh
dari lokasi rumah tua itu.
Namun seseok bayangan
seperti manusia berpakaian serba hitam datang seperti jet tempur. Dari arah
berlawanan jamal yang berlari membawa raisa dengan tergesah-gesah, menahan
gesahan nafasnya yang sudah letih. Sebersit ada sebuah sinar yang berkilau datang
dan menghantam perut jamal. Ternyata itu sebuah belati tajam. Sosok itu yg
menusuk tubuh pria yang menggendong keksihnya itu. Dan jamal pun terkapar
bersimbah darah.
Raisa terhempas ke
aspal, ketiaka jamal terkapar pula di aspal. Sosok itupun menapakkan wajahnya.
Wajahnya yang dipenuhi jahitan dan luka
memar. Di sisa nafasnya jamal pun mengetahui bahwa sosok itu adalah reno. Jamal
teringat tentang pengeroyokan anak sma pelita seminggu yang lalu. Renolah yang
paling banyak mendapatkan bulan-bulanan bogem mentah dari kawan-kawan satu
smanya. Kini dalam sekarat ia menyadari kesalahannya. Ia hanya berharap ada
kata maaf dari bibirnya yang sudah bermuntahkan darah.
Sosok itu pun tersenyum
bahagia. Matanya menyala-nyala. Kepalan tangannya mengacung acung. Ia melangkah
senang, dalam hatinya ia merangkai kata-kata yang mengakhiri jumpanya dengan
raisa., ‘maaf aku harus balas dendam. Raisa. Kamu harus sama mersakanya
terlebih dia. Jamal, si keparat itu. Lelaki hina yang telah merusak hari-hariku
!!’.
Kini sosok yang bernama
reno, mengeluarkan lagi belati tajamnya.
Ia melangkah tegar, mendekati dua manusia yang siap di jemput malaikat itu. Ia
kepal pisau itu di telapak tangannya, muka nya terlihat tegar cendrung pasrah.
Namun tak disangka, pisau yang ia kepal, dengan sengaja ia menghempaskan keperutnya
sendiri. ‘bragghk’ tubuhnya ambruk,
terhempas, dan terkapar bersama sepasang
kekasih yang sama-sama telah ia cabut nyawanya. Kini badan-badan tergeletak itu
sama-sama menanti malaikat surga menjemput arwah mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar