Minggu, 17 November 2013

Teman ilusi



Teman ilusi
sejak ayah dan bundanya bercerai,terpisah jauh tak lagi bersama. Tara, gadis gadis manis yang baru minginjak masa remaja. Dan baru saja merayakan happy seventeen, berubah sikap dan gaya bertemannya.
Sebenernya tara sudah merasakan keretakan hubungan orang tuanya. Dia penah mendengar nama wanita lainselain mamanya. Tapi ia tidak sanggup untuk melerai. Ia hanya berharap pertengkaran ini hanya bumbu kehidupan keluarganya.
Kini ia hanya termenung meratapi kelangsungan hidupnya. Ia selalu berada di sebuah ayunan bertalikan tambang. Tempat yang menurutnyaaman dan nyaman. Pohon mangga yang rindang itu, sekarang menjadi rumah keduanya. Iahabiskan waktu sambil menatap kosong tak berirama.
Waktu itu hujan turun lebat dan beranginkan putaran dedaunan. Iatersadar bahwa hujan mulai turun. Tara pun bersiapuntuk berteduh. Namun langkahnya tertahan, ada seseorang yang menggengam tangannya.
“jangan pergi, hujan sudah lebat. Kamu bisa sakit nanti” ucap orang misterius itu.
Sambil membalikan badan, seseorang misterius itu tiba-tiba kabur dan melepaskan tanganya. Disana tara tercengang dengan jantung berdebar. Wajahnya semulamerah merekah, kini menjadi pucat takberwarna. Tangannya pun masih merasakan sentuhan itu
“siapa tadi? Kok tiba-tiba ada seseorang disini, padahal tembok pembatas tinggi begitu” ia bertanya dalam hati
Tara bertanya – Tanya dalam hati. Seseosok manusia yang ia pikirkan, sudah menjadi banyangan makhluk halus. Tapi ia takmenganggap berlebihan. Ia pun melangkah meski hujanteramat lebat.
Langkah tara pun berlanjut. Tangannya menyilang seakan merasakan kedinginan. Baru beberapa langkah saja, ia merasakan keanehan. Kepalanya takbasah!?, padahal daras hujan bertubi-tubi membasahi bumi. Tara kali ini merinding, perasaanya tak enak
Lalu ia berusaha membalikan badanya. Ia melihat seseorang tadi dengan payung ditangannya. Wajah orang itu tak nampak, berkat jaket kulit berwarna hitam serta topi dengan warna yang senada dengan jaket, melekat di badanya
“hay…!! Siapa kamu? Dari mana asal kamu?” ucap tara berontak
“sudah, lihatlah kedepan. Kan kau jumpai ibu dan bibimu”
Tara pun mengikuti perintah sosok tersebut. Namun tak ia lihat ibu dan bibinya berdiri  di depan sana. Lalu ia mencoba bertanya lagi
“tapi kamu tuh si….” Tara terkejut setengah mati, orang itu kembali menghilang.
******
Esoknya. Tara terjaga dari kantuknya, dengan mata yang masih terkantuk ia melihat sosok ibunya. Ibu dengan hati-hati meletakan nampan berisikan roti dan apel merah segar yang sduh terbelah, di sebeleh ranjang.
“bu…”
“iya tara”memandang dengan senyum
“mana bibi ?”
“bibi? Mana ada bibi kesini. Ia kan sendang diluarkota” ucap ibunya kebingungan
“lho kok gitu? Tapi kata orang itu…” ucap tara namun terpotong
“kata orang? Siapa?
“kemarin ada orang  yang memayungiku hingga teras rumah, lalu pergi entah kemana”
“mana ada orang lain selain kamu di sini?” ucap ib seprti naik darah
“tapi..”
“udah makan sana, ibu harus pergi kekantor”
Tara terdiam, mendengar ibunya sudah menaikan nada bicaranya. Ia cemberut sambil menahan dagu dengan kedua tangannya. Sedangkan ibunya sudah berkemas utuk berangkat ke kantor.
Ibu pergi. Tara kembali sendiri. Kembali ia duduki ayunan bertali tambang. Mengulangi lagi tatapan kosong, dengan tangan menggenggam tali. Kakinya belum mau menggerakan ayunan, tapi  tiba-tiba saja ayunan bergerak sendiri. Tanpa di  gerakkan.
“biar ku ayunkan” ucap orang misterius itu
“kamu!! Lagi-lagi datang mendadak. Sebentar lagi juga kamu menghilang”
“benarkah?”
“iya tau! Eh ngomong-ngomong kamu tuh siapadan kenapa pakai baju serba hitam? Mau ngelayatya? Hahaha…” cerocos tara
“emangnya kamu harus tau”
“iya! Kamu kok judes amat” samba membalikan badan
“ya begitulah aku”
Suasan hening, tak bersuara. Orang misterius itu masih menggerakkan ayunan. Tarapun masih menikmati ayunan itu.
“mengapa diam? Oh iya nama kamu siapa?
“valhen”
“siapa?”
“ingat saja sendiri, tara”
“heyy !! bagaimana kamu tau siapa nama ku?”
Namun sebelum pertanyaan itu terjawab. Sosok misterius itu sudah tak berada ditempat, dimana ia mengayunkan ayunan untuk tara. Ayunanpun terhenti. Rasa penasaran yang begitu kuatdaridalam diri tara membuat ia mencoba mencari manusia misterius itu. Ia mencari di antara semak-semak, lalu dibelakang garasi hingga rela menaiki jenjang demi jenjang anak tangga, untuk melihatkeadaan di balik tembok yang tingginya dua meter itu.
“siapa sih kamu? Valhen…..” teriak tara menggema
Tara lalu, mengayunkan langkah kedalam rumah, dan ia dapati sebuah foto tergeletak di lantai, meski ia tak berfikir mengapa bisa terjatuh. Ia melihat seseorang dengan rambut agak kriting  berjangut tipis,mengenakan baju warna biru dengan kata valhen bergaya font Algerian.
Oh hari yang berta bagi tara, ia merasa mual dengan kejadian ini. Tentang si misterius dan valhen yang ia ucap. Tarapun rebah, terkapar di lantai teras.
******
Belum sadar akan keadaan anaknya kini, membuat ibu gelisah. Sambil berharap-harap cemas dan menunggu dokter yang masih memeriksa keadaan fisik tara.
“anak ibu, Cuma kecapekan, saya beri resep ini. Silahkan ibu membelinya di apotik”
“tapi dok, anak saya tak menglami penyakit mematikan?”
“ah, ibu mengada-ada saja. Tara hanya kecapekan saja serta butuh istirahat”
Dokter pergi. Ibu segara membeli obat sesuai resep yang di berikan dokter.
******
Tara terbangun, ia jumpai rumah dengan keadaan kosong, kepalanya masih terasa pusing. Tara coba duduk dengan menyandardi kepala kasur. Mencoba memandang bebas apa yang ada di balikjendela.
Lalu ia melihat seseorang duduk di ayunan, lalu berdiri dan memutar badan,melangkah dan menghilang di balik pohon. Ia seakan terkejut saat tara melihatnya.
Tara bangkit dari kasur dan segera keluar. Namun saying langkah tara terhenti ketika ia sadar ada ibu di depannya.
“kamu mau kemana?”
“mengejar valhen bu, ia teman ku di…”
“tara !! dari man kamu tau valhen??”
“memangnya siapa itu valhen bu ??”
“bukan siapa-siapa”
“jujurlah bu, dia sosok misterius yang menemaniku akhir-akhir ini”
“apa?”
******
“oh begitu jadinya, tragis sekali hidupnya”
“ya, dia dulu anak tiri ibu, ia kakakmu. Ia pernah ingin membunuh ibu, ingin menusuk ibu”
“lalu apa hubunganya dengan baju yang bertuliskan valhen?!”
“baju itu ialah pemberian dari ibu kandungnya, pada acara ulang tahun yang ke tujuh belas, karena sudah lam terletak dan warna nya sudah mulai kusam. Ibu tak sengaja menjadikannya kain lap pel”
“lalu apa reaksi dia “
“dia marah, dia ambil pisau. Lalu ia mencobamenusukkan pisau kearah ibu. Ayah tiba-tiba datang dan lalu menendangnya hingga terdorong. Kepala nya terbentur kerasdi dinding”
“ia masih hidupkah bu?”
“kepalanya mengalami pendarahan hebat, darah keluar  dengan cepat. Ayah panic, ibu pun panic tak mau ayah masuk penjara. Dan kamisepakat menguburinya di bawah pohon itu.” Ibu menunjuk pohon dimana tara berayun dengan kesunyian hatinya
“semoga ia tenag di alam sana. Ibu juga harus tenang, ia juga tau. Ibu dan ayah tak salah dalam hal ini. Buktinya ia tak mengusik ketenanganku, malah ia selalu menemaniku saat ibu tidak ada di sisi ku”
Tepat dimana hari ulang tahun si misterius itu, ibu dan tara sengaja memanjatkan doa di tempat ia dukuburkan, di bawah pohon yang dihiasi ayunan itu. Dan berharap semoga arawah nya diterima disisi tuhan. Saat  tara mulai pergi menjauh dari pohon itu, ia mendapati  si misterius itu tersenyum.
      

Pacar lebay dan cewek gombal misterius




Pacar lebay dan cewek gombal misterius

Bumi terasa  hangat saat Dodo keluar dari bagunan beratapkan daun ijuk, apalagi tepat di depan jalan diseberang bagunan yang sebentar ini ia singgahi. berdiri tegak sebuah tubuh aduhai molek nian, yang terbungkus dengan baju kaos abu-abu berpernak-pernik dan blazer lengan pendek berwarna hitam kecoklatan.  Membuat mata-mata lelaki di buat terbakar akan pancaran keindahannya.
Dia seorang perempuan, ibarat artis ia mirip marshanda. Namun kalau dia terlihat bercakak pinggang sambil melotot kearah Dodo, ia ibarat mulan jameela kejeduk tembok. Oh my god, nesha. Teriak batinnya. Ia  lupa kalau nesha akan dia jemput dari terminal.
  dodo, aku capek.. kamu kok gak jadi jemput aku. Katanya kamu mau jempuuut” ucapnya sambil merintih kelelahan, mukanya di tekuk. Lalu tangannya menyeret lengan ku sambil ber ucap “ayo antar aku kesalon, terus traktir aku di restoran, habis itu kita kebutiq” ucapnya seperti gaya bicara cherly belle
“tapi, sebentar lagi teman ku datang, ngajak aku main futsal nesha sayang”
“oh gara-gara futsal, kamu gak jemput aku. Pokoknya aku gak mau tau, ini sebagai ganti kamu gak jemput akuuu” bibirnya mancung kedepan
Dengan rasa terpaksa, muka dodo tertekuk mengiyakan ajakkannnya. nesha meminta dodo , untuk menemaninya ke salaon.’ Ahh.. lagi-lagi salon!, gak ada hal yang lebih buruk lagi selain salon?’rintih batin dodo.
Setibanya di salon mereka bertemu nince, seorang tukang salon langganan nesha yang setengah laki alias banci. Kumis-kumis tipis ditemani lipglos di atas bibirnya, membuat dodo mual dan seakan mau muntah. nince datang menyapa, sembari tanganya membelai dada dodo. Otomatis, badan dodo bergetar seakan jijik atas perlakuan nince yang manja.
“ihh..apaan sih lo”ucap dodo ketus sambil mendorong badan nince
“sayang jangan gitu dong, diakan nyambut kita” ucap nesha sambil melangkah menuju tempat krimbat
Tidak terasa sudah satu setengah jam aku menunggu. beberapa majalah sudah habis terbaca, hingga brosur-brosur yang memuat harga layanan salon pun dodo lahap abis. Rasa kantuk mulai menyambangi pemuda bertubuh atletis itu. Dengan perlahan bola matanya mulai menutup penglihatan dodo.
“Byarrr” semburan air datang membasahi muka hingga meluncur ke baju. Terlihat nince berdiri di depan. Dengan senyum sumringah ia berkata” mas, mbak neshanya udah nunggu diluar. Dari tadi dibangunin susahsih, makanya akika banjur” amarahku seakan naik, namun aku tidak  ambil pusing, aku  segera melengkah keluar meninggalkan nince.
Di luar nesha duduk di anak tangga paling bawah, duduk sambil menelfon. Sekejap saja aku menghampirinya. Ia langsung mematikan hape terburu-buru, nesha tersenyum sambil ternganga melihat tubuh ku basah kuyup. Aku hanya diam, namun dia berkilah bahwa ia hanya menyuruh nince membangunanku. Tangannya dengan manis melap muka ku dengan sehelai sapu tangan
“maafin nince ya beb” ucapnya mengakhiri tingkahnya yang menurutku agak aneh, lagi-lagi aku menggangguk mengiyakan.
Perjalanan menuju restoran di mulai, di perjalanan tak satu kalimat kukeluarkan. Beda dengan nesha, beratus-ratus kata telah ia semburkan lewat hape touch screennya. Ia bilang telpon dari temannya. Aku mengutuk dalam hati. Lalu vespa kukebut.
Direstoran, nesha sibuk dengan aplikasi hapenya. ‘Agrrrr..’  aku sudah muak. Dengan cepat ku lahap habis mie kwi tiaw yang ku pesan. Segera aku melangkah menuju wc, tetap saja nesha masih mengutak-atik benda komunikasinya.
*****
Vespa mendarat di butiq. aku tidak mau masuk, sebab wanita terlalu banyak di sana. Takut aku di krubutin sama mereka, ungkapku narsis.
“masuk yukk sayang”
“males ah” jawabku menggeleng kepala
“dodooo.. ayooo”
Aku masih terdiam, celingukan mencari warung, agar bisa mencari alasan untuk membeli minuman.
“dodo kamu lihat apasih? Ooh kamu jahat, kamu lihat cewek yang cantik itu ya”
“kamu yang jahat, aku haus. Mau beli minum dulu”
“bohong, bilang aja mau ngejar cewek itu.”
“terserah kamu lah, bawel”
Dengan rasatak acuh dodo pergi meninggalkan nesha, raut muka bahagia malah di tunjukkan oleh nesha. Wanita berambut lurus itu berjalan bak putrid raja masuk ke sebuah bangunan bertingkat dua yang bernama ‘bu tiek buetique’.lagi-lagi iya bersosial media ria dengan benda elektronik kesayangannya.
***
Dengan hape ditangan kiri dan satusuap sendok baso ditangan kanan, dodo melampiaskan kekesalannyaterhadap pacarnya. Tanpa ia ketahui, seseorang cewek memandangnya keheranan. Dalam benaknya serasa pernah melihat dodo. Memangsih muka dodo sediit pasaran, ia hanya bergaya saat match futsalnya di gelar.
“mas…”
“ya mbak, saya masih makan. nanti aja saya bayarnya”
“hah? Maaf mas.. sa..”
“mbak gak ngerti bahasa indonesia ya? “
“maaf, coba mas lhat saya dulu. Baru ngomong”
“gue sibuk” ucap dodo, sembari membenarkan rambutnya ia melihat wanita cantik di hadapannya “bidadari” tambahnya
“hah? siapa bidadari?”
“kamu, ehh.. gak. Maaf .. anu.. tadi…” ucap dodo terbata-bata
Wanita itu hanyatersenyum, melihat dodo kehilangan kata-kata, dan sesekali mengalihkan pandangannya ke hadapan dodo. Dodo mulai ke GRan, wajahnya memerah tak karuan. Terlihat ia semakin salah tingkah.
“ aku lihat mas kayaknya lagi frustasi nih”
“ahh gak, perasaan mbak aja kali”
“jangan panggil mbak dong mas, panggil aja vanes”
“oh..ia vanes, kalau gitu panggil aja gue dodo”
 ucapnya sambil mengulurkan tangannya, yang langsung dib alas dengan tindakan oleh vanes. Vanes tertawa tertahan. Dodo malah keheranan
“apa yang lucu?”
“gak, nama kamu aja lucu”
“iya, kalau dikasih L di belakangkan jadinya dodol kan” ucapnya cengenesan
“gak, ayam kakek ku namanya dodo loh mas”
Dodopun mendehen, isyarat tanda tak enak hati. vanespun menyadarinya, tapi tetap saja rasa gelinya terhadap nama dodo terus memuncak. Gelas yang tadinya penuh langsung di lahap habis oleh dodo, seperti iklan minuman kesehatan yang ada di tv.
***
Waktu makin berlalu, nesha masih berada di dalam beautique. Terpaksa dodo harus meladeni setipa ocehan vanes. Cengengesan, atau pun tersenyum, bahkan anggukan yang dapat dodo sampaikan untuk menjawab setiap baris perkataan vanes.
Seperti seorang pejuang saja, vanes terus-menerus menggempur setiap pertahanan kalemnya sikap dodo.  Dodo tetap dengan pendiriannya yangtak banyak omong, ia masih kesal dengan harinya, dengan seseorang yang sedang bersamanya dan pacarnya.
Namun, sekajap saja telontar sebuah tanya keluar dari mulut gadis berambut agak pirang itu.
“mas masih nganggur ya, saya mau kok buka lowongannya”
“hekk…. Kamu kok nanya gitu, kayak gak laku aja”
“eh.. mas, jaga omongan tuh, aku ngomong baik-baik”
“ya situ ngomongnya kayak gitu”
”dasar baji***n” ucap vanes dan berlalu meninggalkan dodo. Namun berhenti, vanes membalikan badan dan kembali berjalan menuju dodo kembali.
“mau apa lagi?”ucap dodo
‘plak’ satutamparan mengenai pipi kiri dodo, ‘byurr’ satu gelas berisi air pun tumpah membasahi kepalanya. Wajah yang kenasiram tadi tidak membuat hati dodo lembek. Namun muka amarahnya sekarang muncul membara-bara. Ia kepalkan tangannya tampak berurat-urat seperti ingin putus. Dan ‘brakkkk’ satu meja pun terbelah berkat hantaman tangan kanan dodo.
*****
Senja mulai menepi, nesha masih betah didalam boutique. Kaki dodo sudah gatal I igin beranjak dari duduknya. Ia memutuskan untuk mengecek ke dalam. Siapa tau nesha menyadari dirinya yang sudah bosan menunggunya.
Tapi. Boutique tertutup trail besi, menandakan  boutique tutup. Dodo meradang, kaleng yang terlentang di jalan di sepaknya sampai jauh. Ia sangat kecewa atas perlakuan pacarnya. Apa ini tebusan karena tak menjemputnya di terminal? Ungkapnya dalam hati.
Ada panggilan masuk di hp dodo, nesha yang menghubunginya.
“halo do, kamu dimana sekarang”
“buat apa nanya lagi?”
“maaf sayang, aku Cuma…”
Tut tut tut. Dodo kesal, ia matikan sambungkan teleponnya. Ia melengkah menuju sepeda motornya dan berangkat meninggalkan boutique. Di perjalanannya, dodo masih membayangkannya. Ia tak habis fikir dari tindakan pacarnya. Dengan cewek gombal misterius yang menghampirinya. Dan hari-hari sialnya ini.
Hapenya masih berdering, sengaja tidak ia jawab supaya nesha tau betapa kesalnya ia hari ini. Ia turun dari sepeda motorya dan masuk ke rumahnya. Suasana kelam dalam rumahnya, sepi serasa tak berpenghuni.  
“kejutttannn…”
Dodo kaget, nesha vanes cewek gombal tadi, nince juga ada disana.
“selamat hari jadi yang ke-1 pacarannya mas.. maafin akika ngebanjur mas  tadi. Cucok deh di kerjain”ucap nince
“selamat hari jadi mas, maaf tadi sampai harus buat mas ngeluarin kata-kata kasar ” ucap vanes yangtak lain adalah adiknya nesha
“maaf ya sayang, buat kamu kesal. Tadi beneran aku Cuma mau bikin kejutan”
“kalian anggap ini kejutan?puas kalian ngerjain aku? Puas?”
 ketakutan, bulu kuduk berdiri dan merasa bersalah itu yang mereka rasakan saat ini. Apalagi vanes, air matanya mulai menetes. Dodopun tersenyum, dan tertawa.
“hahaha.. yang ngerjain ternyata bisa dikerjain” ucap dodo
“ish.. kamu jahat do” ucap nesha sambil tersenyum sambil masih terisak atas rasa bersalahnya. Pundak dodo di pukul-pukul pelan dan di cubit. Dan diakhiri pelukan mesra. Tak ingin kalah nince dan vanes pun segera memeluk mereka bersama-sama.