.::Jamu update::.
Memang ribet kalau udah urusan
sakit perut, entah kenapa akhir-akhir ini aku sering buang air besar.
Bolak-balik wc membuat bunda kebingungan. Apalagi kucing peliharaan ku,
mengeong melulu gara-gara tidak kubelai satiap saat. Dan gara-gara aku juga,
engsel pintu kamar mandi nyaris tanggal, saat
belari sembari membanting pintu.
Setelah selesai membuang hajat
untuk kesekian kalinya, perut ini lumayan lega. Tidak lagi berkecamuk
mengaduk-aduk di segala organ-organ dalam perut. Nampak oleh ku, bunda mulai
membuka lembaran demi lembaran buku kecil. Lebih besar sedikit dari buku saku
pramuka, namu buku yang bunda pegang saat ini lebih tebal.
“biasanya
jam segini lihat gosip di tv, kok sekarang rajin baca buku bun.” ucapku agak
nyeleneh
“ini
bunda lagi cari resep obat tradisional” jawab bunda
“buat
siapa, bun?”
“buat
yang dobrak pintu tiapkali ke wc” sindir bundaku
Mendengar ucapan bunda, aku pun
menjauh. Pasti disuruh minum jamu, yang rasanya jauh dari nikmat tapi khasiatnya
jauh dari mujarab. Bukannya belagak ke kotaan, tapi jaman sekarang sepertinya
kuno kalau minum jamu. Sekarang jamannya
obat sirup dari apotek atau obat pil dari kedai terdekat. Cara membelinya pun,
harus menunggu tukang jamunya muncul. Ribetkan!
*****
Sewaktu aku nongkrong di warung
gapleh, lagi duduk-duduk di sandaran kursi. Teman-teman ku juga menyarankan
kalau aku minum jamu, apa lagi si Ragil paling setuju kalau harus minum jamu.
“itu artinya lu mencret, vian.” Ucap dia sambil nujuk kearah ku ”obat yang
tepat, ya jamu”tambahnya
“ngapain
lu? Promosi jamu?”
“nih
anak, kalau dikasih tau pasti jawabnya promosi lah.. inilah.. anulah” ucap
Ragil emosi
“ya
habisnya lu ngebet nyuruh gue minum jamu”
“kemarin
kakek gue kena asam urat” kata Ragil
“terus
minum jamu?” Tanya ku
“enggak,
dia minta gue pijitin” ucap ragil seperti orang bego
Teman-teman yang lain serempak
tersenyum, mereka bersama-sama mentempeleng kepala Ragil. Tak mau ketinggalan
aku ikut serta menempeleng kepala siRagil. Habis, orang lagi serius, dia malah
ngawur.
Lalu datang seorang gadis belia,
ia adalah Zahra, tapi lebih di kenal dengan sebutan neng Ara. Rambutnya yang tergurai
halus tertiup angin, dengan cepat ia
memasangkan bando. Bodynya yang aduhai membuat ia makin mempesona. Tak jarang
ia selalu di goda pengunjung yang sedang nongkrong.
Neng ara, yang notabene seorang
siswi sma kelas 1, berkata sama dengan apa yang diucapkan Ragil sebentar ini.
Mungkin dia menguping pembicaraan tadi, selidikku.
“jamu
tuh, banyak manfaatnya bang vian, Ara saja sering minum”
“heh
sering” aku agak ilfeel mendengarnya “emang sakit apa kamu neng?”
“Ara
gak sakit kok, Cuma untuk menambah daya tahan tubuh. Soalnya Ara harus bantu
ibu di sini”
“
tuh vian, dengerin apa kata calon pacar gue. Jamu tuh banyak kasiatnya”
Mendengar Ragil ngebayol, neng Ara
memasang muka kesal. Tiba-tiba damparan tangan halus neng ara melayang ‘plakk’
menyambar pipi sebelah kanan Ragil.
sekarang ia berlalu melangkah ke belakang. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan
kejadian tadi, namun yang lain tertawa kejang-kejang, sambil menahan perut
masing-masing.
“lu
sih ke PeDean jadi makhluk, gimana rasanya kena salam temple dari anak gue?” ucap ibu Dea,
alias ibu kandungnya neng Ara.
Muka ragil melai menekuk. Maksud
hati hanya bercanda, tapi berubahmenjadi derita. Sejenak mereka yang masih
tertawa mulai memandang iba pada Ragil. Betapa malunya Ragil saat itu. Ibarat
pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kena gamprat, kena juga ceramah ibu
Dea. Tapi tak apalah, hitung-hitung merubah sikap sesat Ragil.
Lantas aku mengajak ia pergi untuk berkeliling, di sekitar komplek
rumahku. Ia mengaguk tanda setuju. Mungkin ia mau membuang muka dari calon ibu
pacarnya yang masih pemurah.
*****
Kembali menuju rumah, setelah
seharian aku mehabiskan hari di luar.
Terlihat seorang perempuan.,di kejahuan. Nampak nya tua setahun atau dua tahun
dariku yang baru naik jenjang SMA kelas
3. Kemudian ia menatapku, dan tersenyum, “vian ya?” ucapnya seperti telah
mengenaliku “saya roimah, tadi di suruh ibumu kesini”ucapnya lagi
“Glek” lirihku menahan ludah,
dilihat dari namanya, orang yang sekarang ada dihadapanku ini nampaknya tukang
jamu. Badan ku mulai bergetar merinding memikirkan seandainya aku meminum jamu,
yang pahit dan kurang sedap.
Dengan cepat aku berlari kedalam
rumah, tanpa menghiraukan ia bicara. Ibuku datang di saat tidak tepat, lalu tegak
di depan pintu, seperti ingin menghadang laju langkah kaki ini. Namun
berhasilku hindari, dengan cara berlari zigzag seakan di bayangi lawan seperti
permainan sepak bola.
Berlari
aku menuju kamar, lalu segera mengunci pintu. Sedetik kemudian pintu terbuka
kembali. Aku keluar. sekarang langkah ini menuju wc, terasa purut ini bergejolak lagi, ingin memuntahkan
magma kuning yang ingin menyemburkan berbau tajam.
*****
Setelah berlama-lama, berdiam diri di wc. Aku keluar, kembali kekamar dengan perasaan lega. Ku ambil
selimut dan kubaringkan raga ini di menelentang di kasur. Kata orang kalau kita
sakit perut, lalu di bawa tidur. Rasa sakit perut akan hilang dengan
sendirinya.
*****
“ terkutuklah kamu, vian.” Di
depan ku kini berdiri tegak sebuah gelas
raksasa berisikan cairan berwarna kecoklatan. Lengkap dengan seluruh
anggota badan layaknya manusia. “ Kau tidak
memanfaatkan ku, kini kau menjelekkan khasiat ku. Rasakan pembalasan ku ini”
ucapnya lagi.
Aku mulai ketakutan, tiba-tiba
Guntur menggema di langit gelap. Sayup-sayup burung elang terdengar temani
dentuman kilat-kilat yang menyambar. Alunan lagu lirihpun mulai terdengar.
Gelas itupun menumpahkan seluruh isi cairan coklatnya. Tanganku kini terangkat seakan ingin menghalau
tumpahan yang akan datang membasahi. “tidak….” Teriakku.
“ lebay.. lu. Tidak-tidak kayak acara
eat bulaga aja” ada suara keluar dari awang-awang, fikirku. “ayo cepat bagun”
ucapnya lagi. Tiba-tiba bumi berguncang, dan datang gelombang besar menerjang
bak tsunami. Seketika tubuhku basah. Mata
kini terbuka, ragaku terbagun di atas kasur. Ternyata, kejadian tadi
hanya mimpi.
“dasar
anak sombong.. gue ngenalin diri lu malah kabur” ucap seorang wanita, yang
tidak lain adalah roimah.
“maaf,
saya gak mau minum jamu mbak. Tolong jangan paksa saya”
“eh
sinting, lu kira gue tukang jamu? Heuh..” ucapnya sembari melotot
“nah
mbak siapa?”
“gue
anak teman ibu lu, gue di suruh meracik obat untuk sakit perut. Memang sih
mirip jamu”
“tuh
kan, jamu”
“memang
kenapa? Lu kok parno sama jamu!”ucap roimah sambil mencetuskan mukanya
Aku agak terkesima dengan gaya bicara
mbak roimah. “lu kok parno sama jamu!”. Hatiku bertanya ‘apa salahnya kalau di
coba?’ toh, aku tidak akan mati. Tapi rasanya kalau cairan itu sampai masuk ke
kerongkonganku, ibarat menelan air tuba. Meskipun aku tak perna meminum air tuba.
Mbak roimah pun mendekap
tanganku, ia melangkah mengajakku menuju dapur. Aku hanya bisa pasrah dibawanya
kedapur.
Lalu
ia tunjukkan aku semua rempah-rempah yang tergeletak di meja dapur. Di lepas
tangan ku dan, mengambil sebuah jahe. “ ini jahe, lu taukan?” aku mengangguk.
“gunanya menghangatkan badan dan meningktkan daya tahan tubuh”
Setelah
itu ia mengambil semangkok kecil santan kelapa, “ini santan, you know? It is
for adding sweet flavor after mixing of sugar. Ngarti lu?”
“ng..
ngak mbak” ucapku kebingungan
“anak
zaman sekarang, banyak lagak. Bahasa inggris satu kalimat aja gak tau” ucapnya
sewot. “santan ini yang nambah rasa manis ketika dicampurkan dengan gula, itu
artinya”
Gila, namanya saja yang kampungan
‘Roimah’. Tapi berbeda jauh dari ilmu yang ia terapkan sekarang pada ku. Aku
bangga padanya, masih ada seorang anak bangsa yang memperhatikan warisan
leluhur nenek moyang terdahulu. Saking terpesonanya aku sampai melamun
mendengar tiap alunan bicaranya.
“malah
bengong, tadi dengar gak? Apa yang udah gue sebutin” kini matanya melotot tajam
“ya
mbak, dengar kok” kataku
Segelas jamu pun tersaji. Kini berada di gengaman mbak roimah, setelah ia
mengiling sepotong kecil jahe hingga halus dan mencapurkan kencur. Ditambah
santan yang sudah di laruti gula secukupnya, laludi tuang di gelas yang saat
ini ia gengam.
Aku minum jamu itu.
“turis-turis
yang datang ke Indonesia, gak kayak orang kita” aku berhenti meminum, setelah
mendengar kata-kata mbak roimah. “kalau orang kita keluar negeri, ‘kebanyakan
pergi shopping yang gak jelas’. Beda sama orang barat di tidak hanya berwisata,
tapi juga belajar. Termasuk meramu jamu”
“gak
juga mbak, contohnya teman ku dia dapat beasiswa sepak bola. Ia terbang ke Milan untuk belajar sepak bola di
klub AC Milan” ucapku menyalahi mbak roimah
“maksud
gue, orang kaya yang niatnya hanya hura-hura di negeri orang”
Aku menggangguk mengiakan. Dari
pada harus mendengar ia mengoceh melulu. Lebih baik aku melahap habis jamu hasil racikan tangan mbak
roimah.
*****
Esoknya, aku seperti biasa
sehabis pulang sekolah langsung menuju kedai gapleh. Aku berjalan dengan riang.
Perut yang kemarin bergejolak kini. Kini adem ayem bagai musim salju.
Disudut bangku sana, Ragil
memandangi ku keheranan. Ia menatap seperti layaknya menyambut pangeran
kerajaan datang.
Aku ceritakan perjalanan hidupku kemarin, penuh
perjuangan untuk melawan rasa sakit perut dan takut meminum jamu. Sampai akhirnya
sesosok pahlawan yang lumayan cantik datang memberiku sebuah senjata pamungkas
bernama ‘jamu’.
Ia menjelaskan ini itu tentang
jamu, tanpa letih mengajariku bagaimana
meracik jamu. Hingga letihnya terbayar saat aku dengan rela meneguk segelas
jamu. Dan hasilnya sakit perut yang mengurut perutku berangsur surut. Legarasanya, tidak ada lagi lari menuju
wc. Tidak ada lagi suara hantaman pintu yang membuat engselnya bergoyang. Dan
tidak ada lagi hari ku tanpa membelai kucing peliharaan ku.
Namun. Yang ku terima cacian dari
teman-teman satu tongkrongan, ibu Dea dan neng Ara. Mereka semua bersatu
membuatku malu. Tapi, slow saja, toh… mereka hanya bercanda. Sebab kemarin aku
teguh membenci yang namanya jamu. Sampai ada dua orang remaja yang berselisih
gara-gara mengupdate jamu, mereka tidak
lain adalah Ragil dan neng Ara.
Kini mereka terlihat saling
menjauhkan diri. Tapi api antara mereka sudah padam, setelah neng ara meminta
maaf sebelum aku tiba di kedai gapleh ini. Huft.. aku berterima kasih pada mbak
roimah yang mengupdate tentang jamu sedari kemarin. Dan tak lupa Allah swt yang
menyembuhkan aku dari derita kemarin.
Sambil tersenyum aku duduk
memanjangkan tangan di sandaran kursi. Dan tertawa ketika ragil mulai membuat ulah lagi.