Aku, hujan & kenangan
Didalam kost yang agak panas, ditemani
keringat yang jatuh bercucuran membasahi ujung kepala, lalu menggelantung di
dagu. Sambil melap muka, Arya menawarkanku segelas es jeruk dari pemberian
pacarnya. Tidak membutuhkan waktu lama, segelas es jeruk siap minum, sudah
berpindah ke tangan ku. Maklum saat ini aku merasa haus
“loe tuh kebiasaan, kalo ada ginian buru-buru
ngambilnya.” ucapnya menyindir
“hehe… ikhlas, gak. Ngasih gue es ini?.”
jawabku sembari senyum
“ya ikhlaslah.”
“ya udah gak usah ceramah”
“ialah bawel” sembari berlalu menuju pintu
Kamar kost-an kami tidak terlalu besar, namun
pas untuk dua orang. Tapi terasa sesak ketika barang-barang harian harus
berantakkan dimana-mana. Maklum laki-laki, agak malas, seakan tak ada waktu
untuk membersihkan kamar. Mana lagi cuaca pancaroba yang sedang terjadi
belakangan ini. Membuat gerah bila panas menyala dan akan terasa sangat dingin
saat hujan melanda.
Diluar nampak awan hitam telah mengusir
cahaya mentari. Cuaca berganti, dengan
bertubi-tubinya hembusan angin datang bergelombang .burung - burung pun
berhamburan terbang kembali ke sarang
masing-masing, layaknya manusia yang tak mau tertimpa air hujan.
Arya yang berdiri tak jauh dari daun jendela
dengan segera merapatkannya. Sedangkan aku dengan terpaksa berlari menghalau
pintu yang sudah terhembus angin, kalau tidak suara pintu akan berdentum keras.
Beginilah kerjaan aku dan arya menghadapi cuaca yang akan
hujan. Ya biasalah, kost disini atapnya sering bocor. Tidak pernah diganti,
maklum namanya juga anak kost sibuk melulu sama tugas. Baskom dan alas kaki segera
ku tempatkan di titik-titik rawan kebocoran. Agar air merembas dan tak
menyiprat ke segala arah.
Irama hujan mulai mengeras, menimbulkan suara
sangat ribut. Aku dan arya hanya bisa terduduk menyandar,menatap hujan yang
mulai membasahi jendela. Lalu aku berusaha mengangkat topik pembicaraan tadi.
Apalagi kalau tidak cewek, untuk penghilang rasa suntuk aja sih.
“cewek loe baik ya, setiap kali ketemuan sama
loe, pasti bawa oleh-oleh buat gue. Haha..” jawabku cekikikan
“ya begitulah, loe ngiriya .“ sambil menyiut
ku pelan
“GR amat sih loe, jadi jomblo tuh masih enak
kali.”ucapku membela pendirian ku
“alah.. omongan loe basi, buktinya lu sering ngelamun
terus nulis mantan loe. Oh ia siapa nama nya?.” Jawabnya seperti memberikan
fakta
“putri, tapi kan.”
“gue tau, loe gak laku kan.?” senyum arya,
menyindir
“ sialan, gue jomblo kan ada alasan …” namun
lagi-lagi jawabanku di potong
Arya pun berlalu menjauh dari ku, ku lihat ia
sedang mengangkat telpon, mungkin dari pacarnya. Aku yang di tinggal sendiri,
hanya bisa terpaku. Saat itu ku merasa seperti manusia yang paling tak
beruntug. Lebih banyak sial. Betul juga kata arya tadi, apa aku tak laku? Tapi,
masa iya aku disamakan dengan barang dagangan yang jarang di beli orang.
Aku merasa kaget, rasanya ketika ada getran
di saku celana ku. rupanya ada pesan
masuk. Dengan tidak sabar langsung aku membuka nya. Tapi apa yang kuharap kan
berbanding terbalik dengan pesan tertulis begini “kartu anda dalam masa
tenggang…”provaider sialan, bisik ku dalam hati.
Huh.. benar kata arya. Mungkin aku sendang
mengidap rasa iri, dari virus cinta Arya dan pacarnya. Aku pun merasa ingin mendapat
perhatian, seperti Arya dengan pacarnya. itu sudah menjadi bukti bahwa saat ini
aku mulai depresi akibat cinta.
Hape ku lempar ke bantal. Aku kembali
menyendiri, hanya tidur-tiduran. Melirik langit-langit yang mulai menampakkan
warna kusam. Atau melihat sang laba-laba, bahkan ngupil, hehe..
Hujan mulai reda, tapi hawa dingin masih
melekat di sekujur tubuhku. Enaknya kalau habis hujan makan bakso, kenapa tidak
beli bakso saja pikirku. Biar tubuh agak hangat, sambil cuci mata. Alias
lihat-lihat cewek, dari pada bosan di rumah. Dengan cepat aku berdiri. Mengamabil
jaket, lalu pergi mencari si daging bulat alias meatball.
Aneh, biasanya tukang bakso berhamburan
mengais rezeki pada cuaca hujan seperti ini. Dan tiupan angin dan hawa dingin
telah menjerat rasa lapar ku. Alangkah baiknya aku mencari bakso di kedai-kedai
saja. Dari pada harus menunggu. Jelas aku bukan orang yang penyabar. Dengan cepat
ku hidupkan sepeda motor dan bergegas menjauh dari kost.
“andai saja, ada putri saat ini” upss.. apa
yang telah ku ucapkan barusan?. Tidak seharusnya aku berucap demi kian.
Sampai di tengah perjalanan aku masih
membayangkan sosok putri. Ingin rasanya aku bertemu kali ini. Apa aku telpon
saja? Oh tidak, aku lupa membawa hape. Tapi, kalau tidak salah hari ini di
bimbel. Apa harus aku ke tempat bimbel dia?
Akhirnya kuputuskan untuk menyambanginya ke
tempat bimbel, siapa tau berjumpa. Setelah beberapa menit aku menunggu putri di
gerbang bimbel itu, tak nampak satupun manusia yang lalu lalang. Aku hanya
berharap Putri belum pulang. Ataukah dia
tidak masuk karena hari hujan? Fikiran
ku lantas kacau dan blank. Lalu ku putar
saja sepeda mator untuk segera pergi menjauh dari tempat ini
“aaahh.. ”ada seseorang berteriak. Aku
gegabah, dengan sigap aku tekan rem kanan. Nampak seorang cewek tengah berlari
dan nyaris saja aku tabrak.
“loe gak liat, gue lagi buru-buru” bentak
orang itu pada ku
“udah tau gue mau belok, kenapa loe masih
lari? ” jawabku geram
“bukan nyaminta maaf, malah maki-maki gue”
ucapnya menggerutu
“sorry ya, gue gak ngerasa bersalah” ucapku
ketus
Ku buka helm ku, dan menatap tajam lawan
bicara ku. Tapi, tiba-tiba hati ku bergetar, karena orang itu sosok yang kucari
sedari tadi
“putri? ” Tanya ku
“randa?” dia pun berucap sama
“hahaha…sorry, gue kira siapa.” Senyum ku
padanya
“ouh gak apa-apa santai aja nda” jawab ia
dengan tersenyum
Tanpa pikir panjang, langsung saja aku ajak
Putri makan bakso bersama. Dam ia mau saja. Lalu aku bawa ia ke kedai bakso
malang yang berada di simpang empat, yang di hiasi tuggu di tengah perempatan
tersebut.Tempat sewaktu aku dan putri sering diner malam mingguan. Letaknya
agak jauh sih, yaitu arah menuju pasar. Tepat 1km dari kost-an yang kini ku
huni.
“kamu sama aja, masih kayak dulu suka sewot
melulu” ujarnya membuka pembicaraan
“yang ngajarin gue sewot kan kamu. Hehe ..”
jawabku cekikikan
“sembarangan.” Dia menggelengkan kepala.
“Randa..Randa.., oia. Sekarang kamu sama siapa? Nanti ada yang marah loh” Tanya putri, membuatku agak sedikit
tersendak saat menyuap kuah bakso
“gak lah.. aku masih jomblo, masih mau membahagiakan orang tua ku
dulu”kata ku, diakhiri dengan senyum terpaksa
“ bagus lah, itu baru Randa yang ku kenal”
“kamu bisa aja put”
Ku kira ia masih mengingatnya, saat-saat aku
meminta untuk putus. Sebab waktu itu
memang kondisi keluarga ku sedang
mengalami masalah. Hingga sempat aku mendengar doa ibuku yang menagis.
Aku tak tega membiarkan ibuku menangis karena mendoa kan ku untuk menjadi
manusia yang berguna. Dan dari sanalah awal kisah ku dengan putri harus ku
akhiri. Aku tak ingin merusak sebuah doa terindah dari ibuku.
“ku antar pulang ya,” Tanya aku pada putri
“gak usah, aku naik angkot aja” jawabnya
“pake nolak segala, hujan-hujan begini mana
ada angkot mau berhenti” jelas ku
“hah.. kata siapa?” ucapnya kebingungan
“kata gue dong..” sambil mencibir
Putri tersenyum dan mencubit punggung ku
dengan kerasnya, hingga aku mengaduh kesakitan.
Di perjalanan aku tertegun oleh muka cantiknya
yang masih merona, saat melihat dia dari kaca spion. Lalu dengan sengaja ku
percepat tarikan gas ku. Dan secara tak sengaja, ia memelukku. Lalu dengan
cepat pula ia mencubit pinggang ku untuk kedua kalinya. Rasanya lumayan sakit,
tapi gak apa-apalah, kapan lagi aku bisa merasakan saat-saat bersamanya.
“kamu masih
nakal ya” ujar nya kepada ku “jalan hati-hati dong, nda ” ucapnya. Di
balik spion aku mengumbar senyum merekah dan menganggukan kepala sebagai
jawaban.
Sesampainya di rumah aku ditawari masuk
terlebih dahulu. Namun dengan cepataku menolaknya. Aku tak ingin kisahku dengan
putri kembali bersemi, meskipun sebenarnya aku masih ada rasa dengannya.
“kamu yakin gak mau masuk? Hari masih hujan
loh” padahal gerimis
“lain kali aja deh, aku buru-buru”
Akupun bersiap pergi, meski rasanya berat
utuk berpisah kembali dengan putri. Setelah sekian lama aku berpisah dengannya.
Ketika aku akan segera pergi, tangan mulusnya menahan tarikan gas ku. Lantas
aku mulai menatapnya kembali.
“randa. Makasih ya, meski harus
berbasah-basah. Kamu mau ngantar aku pulang”
“ia put, sama-sama. Kamu juga mau ku antar”
sambil mendekap tangannya “ mhh… hari ini takkan ku lupakan put, Aku, hujan dan
kenangan.” sambil mengusap dagunya.
“kenangan?” dia kebingungan “kok gak ada nama
ku, nda?” Tanya ia
“kenangannya itu kamu, biar kayak judul
puisi. Hehehe..” jawab ku sambil tertawa
“huh sok puitis, ya udah hati-hati dijalan ya,
nda” ujarnya pada ku
“biarin”sambil mencibir “oke, manis” coba
menggodanya. Putrid akan beranjak pergi,
dengan cepat ku kecup jidatnya, curi-curi kesempatan gitu deh. Dan
akhirnya tarikan gas motor, membawaku pergi meninggalkan putrid di depan rumahnya. Kulihat dari spion,
ia hanya tersenyum sembari melambai.
Huh..
setibanya di kostan. Aku merasa senang.
Sambil masih berkhayal dengan kejadian tadi. Saat itu aku melihat arya mer menung di sudut
kamar kost. Nampak wajahnya gusar dan nyaris menitikkan air mata.
“kenapa loe?”Tanya ku
“gue putus nda” jawabnya sedih
Tiba-tiba kilat menyambar, dan sinarnya,
membuat bulu kudukku berdiri. Dan hujan pun bertambah lebat kembali.