Senin, 19 Agustus 2013



Aku, hujan & kenangan
Didalam kost yang agak panas, ditemani keringat yang jatuh bercucuran membasahi ujung kepala, lalu menggelantung di dagu. Sambil melap muka, Arya menawarkanku segelas es jeruk dari pemberian pacarnya. Tidak membutuhkan waktu lama, segelas es jeruk siap minum, sudah berpindah ke tangan ku. Maklum saat ini aku merasa haus
“loe tuh kebiasaan, kalo ada ginian buru-buru ngambilnya.” ucapnya menyindir
“hehe… ikhlas, gak. Ngasih gue es ini?.” jawabku sembari senyum
“ya ikhlaslah.”
“ya udah gak usah ceramah”
“ialah bawel” sembari berlalu menuju pintu
Kamar kost-an kami tidak terlalu besar, namun pas untuk dua orang. Tapi terasa sesak ketika barang-barang harian harus berantakkan dimana-mana. Maklum laki-laki, agak malas, seakan tak ada waktu untuk membersihkan kamar. Mana lagi cuaca pancaroba yang sedang terjadi belakangan ini. Membuat gerah bila panas menyala dan akan terasa sangat dingin saat hujan melanda.
Diluar nampak awan hitam telah mengusir cahaya mentari. Cuaca berganti,  dengan bertubi-tubinya hembusan angin datang bergelombang .burung - burung pun berhamburan terbang  kembali ke sarang masing-masing, layaknya manusia yang tak mau tertimpa air hujan.
Arya yang berdiri tak jauh dari daun jendela dengan segera merapatkannya. Sedangkan aku dengan terpaksa berlari menghalau pintu yang sudah terhembus angin, kalau tidak suara pintu akan berdentum keras.
Beginilah kerjaan  aku dan arya menghadapi cuaca yang akan hujan. Ya biasalah, kost disini atapnya sering bocor. Tidak pernah diganti, maklum namanya juga anak kost sibuk melulu sama tugas. Baskom dan alas kaki segera ku tempatkan di titik-titik rawan kebocoran. Agar air merembas dan tak menyiprat ke segala arah.
Irama hujan mulai mengeras, menimbulkan suara sangat ribut. Aku dan arya hanya bisa terduduk menyandar,menatap hujan yang mulai membasahi jendela. Lalu aku berusaha mengangkat topik pembicaraan tadi. Apalagi kalau tidak cewek, untuk penghilang rasa suntuk aja sih.
“cewek loe baik ya, setiap kali ketemuan sama loe, pasti bawa oleh-oleh buat gue. Haha..” jawabku cekikikan
“ya begitulah, loe ngiriya .“ sambil menyiut ku pelan
“GR amat sih loe, jadi jomblo tuh masih enak kali.”ucapku membela pendirian ku
“alah.. omongan loe basi, buktinya lu sering ngelamun terus nulis mantan loe. Oh ia siapa nama nya?.” Jawabnya seperti memberikan fakta
“putri, tapi kan.”
“gue tau, loe gak laku kan.?” senyum arya, menyindir
“ sialan, gue jomblo kan ada alasan …” namun lagi-lagi jawabanku di potong
Arya pun berlalu menjauh dari ku, ku lihat ia sedang mengangkat telpon, mungkin dari pacarnya. Aku yang di tinggal sendiri, hanya bisa terpaku. Saat itu ku merasa seperti manusia yang paling tak beruntug. Lebih banyak sial. Betul juga kata arya tadi, apa aku tak laku? Tapi, masa iya aku disamakan dengan barang dagangan yang jarang di beli orang.
Aku merasa kaget, rasanya ketika ada getran di saku celana ku. rupanya  ada pesan masuk. Dengan tidak sabar langsung aku membuka nya. Tapi apa yang kuharap kan berbanding terbalik dengan pesan tertulis begini “kartu anda dalam masa tenggang…”provaider sialan, bisik ku dalam hati.
Huh.. benar kata arya. Mungkin aku sendang mengidap rasa iri, dari virus cinta Arya dan pacarnya. Aku pun merasa ingin mendapat perhatian, seperti Arya dengan pacarnya. itu sudah menjadi bukti bahwa saat ini aku mulai depresi akibat cinta.
Hape ku lempar ke bantal. Aku kembali menyendiri, hanya tidur-tiduran. Melirik langit-langit yang mulai menampakkan warna kusam. Atau melihat sang  laba-laba, bahkan ngupil, hehe..
Hujan mulai reda, tapi hawa dingin masih melekat di sekujur tubuhku. Enaknya kalau habis hujan makan bakso, kenapa tidak beli bakso saja pikirku. Biar tubuh agak hangat, sambil cuci mata. Alias lihat-lihat cewek, dari pada bosan di rumah. Dengan cepat aku berdiri. Mengamabil jaket, lalu pergi mencari si daging bulat alias meatball.
Aneh, biasanya tukang bakso berhamburan mengais rezeki pada cuaca hujan seperti ini. Dan tiupan angin dan hawa dingin telah menjerat rasa lapar ku. Alangkah baiknya aku mencari bakso di kedai-kedai saja. Dari pada harus menunggu. Jelas aku bukan orang yang penyabar. Dengan cepat ku hidupkan sepeda motor dan bergegas menjauh dari kost.
“andai saja, ada putri saat ini” upss.. apa yang telah ku ucapkan barusan?. Tidak seharusnya aku berucap demi kian.
Sampai di tengah perjalanan aku masih membayangkan sosok putri. Ingin rasanya aku bertemu kali ini. Apa aku telpon saja? Oh tidak, aku lupa membawa hape. Tapi, kalau tidak salah hari ini di bimbel. Apa harus aku ke tempat bimbel dia?
Akhirnya kuputuskan untuk menyambanginya ke tempat bimbel, siapa tau berjumpa. Setelah beberapa menit aku menunggu putri di gerbang bimbel itu, tak nampak satupun manusia yang lalu lalang. Aku hanya berharap  Putri belum pulang. Ataukah dia  tidak masuk karena hari hujan? Fikiran ku lantas kacau dan blank. Lalu  ku putar saja sepeda mator untuk segera pergi menjauh dari tempat ini  
“aaahh.. ”ada seseorang berteriak. Aku gegabah, dengan sigap aku tekan rem kanan. Nampak seorang cewek tengah berlari dan nyaris saja aku tabrak.
“loe gak liat, gue lagi buru-buru” bentak orang itu pada ku
“udah tau gue mau belok, kenapa loe masih lari? ” jawabku geram
“bukan nyaminta maaf, malah maki-maki gue” ucapnya menggerutu
“sorry ya, gue gak ngerasa bersalah” ucapku ketus
Ku buka helm ku, dan menatap tajam lawan bicara ku. Tapi, tiba-tiba hati ku bergetar, karena orang itu sosok yang kucari sedari tadi
“putri? ” Tanya ku
“randa?” dia pun berucap sama
“hahaha…sorry, gue kira siapa.” Senyum ku padanya
“ouh gak apa-apa santai aja nda” jawab ia dengan tersenyum
Tanpa pikir panjang, langsung saja aku ajak Putri  makan bakso bersama. Dam  ia mau saja. Lalu aku bawa ia ke kedai bakso malang yang berada di simpang empat, yang di hiasi tuggu di tengah perempatan tersebut.Tempat sewaktu aku dan putri sering diner malam mingguan. Letaknya agak jauh sih, yaitu arah menuju pasar. Tepat 1km dari kost-an yang kini ku huni.
“kamu sama aja, masih kayak dulu suka sewot melulu” ujarnya membuka pembicaraan
“yang ngajarin gue sewot kan kamu. Hehe ..” jawabku cekikikan
“sembarangan.” Dia menggelengkan kepala. “Randa..Randa.., oia. Sekarang kamu sama siapa? Nanti ada yang  marah loh” Tanya putri, membuatku agak sedikit tersendak saat menyuap kuah bakso
“gak lah.. aku masih  jomblo, masih mau membahagiakan orang tua ku dulu”kata ku, diakhiri dengan senyum terpaksa
“ bagus lah, itu baru Randa yang ku kenal”
“kamu bisa aja put”
Ku kira ia masih mengingatnya, saat-saat aku meminta untuk putus. Sebab  waktu itu memang kondisi keluarga ku sedang  mengalami masalah. Hingga sempat aku mendengar doa ibuku yang menagis. Aku tak tega membiarkan ibuku menangis karena mendoa kan ku untuk menjadi manusia yang berguna. Dan dari sanalah awal kisah ku dengan putri harus ku akhiri. Aku tak ingin merusak sebuah doa terindah dari ibuku. 
“ku antar pulang ya,” Tanya aku pada putri
“gak usah, aku naik angkot aja” jawabnya
“pake nolak segala, hujan-hujan begini mana ada angkot mau berhenti” jelas ku
“hah.. kata siapa?” ucapnya kebingungan
“kata gue dong..” sambil mencibir
Putri tersenyum dan mencubit punggung ku dengan kerasnya, hingga aku mengaduh kesakitan.
Di perjalanan aku tertegun oleh muka cantiknya yang masih merona, saat melihat dia dari kaca spion. Lalu dengan sengaja ku percepat tarikan gas ku. Dan secara tak sengaja, ia memelukku. Lalu dengan cepat pula ia mencubit pinggang ku untuk kedua kalinya. Rasanya lumayan sakit, tapi gak apa-apalah, kapan lagi aku bisa merasakan saat-saat bersamanya.
“kamu masih  nakal ya” ujar nya kepada ku “jalan hati-hati dong, nda ” ucapnya. Di balik spion aku mengumbar senyum merekah dan menganggukan kepala sebagai jawaban.
Sesampainya di rumah aku ditawari masuk terlebih dahulu. Namun dengan cepataku menolaknya. Aku tak ingin kisahku dengan putri kembali bersemi, meskipun sebenarnya aku masih ada rasa dengannya.
“kamu yakin gak mau masuk? Hari masih hujan loh” padahal gerimis
“lain kali aja deh, aku buru-buru”
Akupun bersiap pergi, meski rasanya berat utuk berpisah kembali dengan putri. Setelah sekian lama aku berpisah dengannya. Ketika aku akan segera pergi, tangan mulusnya menahan tarikan gas ku. Lantas aku mulai menatapnya kembali.
“randa. Makasih ya, meski harus berbasah-basah. Kamu mau ngantar aku pulang”
“ia put, sama-sama. Kamu juga mau ku antar” sambil mendekap tangannya “ mhh… hari ini takkan ku lupakan put, Aku, hujan dan kenangan.” sambil mengusap dagunya.
“kenangan?” dia kebingungan “kok gak ada nama ku, nda?” Tanya ia
“kenangannya itu kamu, biar kayak judul puisi. Hehehe..” jawab ku sambil tertawa
“huh sok puitis, ya udah hati-hati dijalan ya, nda” ujarnya pada ku
“biarin”sambil mencibir “oke, manis” coba menggodanya. Putrid akan beranjak  pergi, dengan cepat ku kecup jidatnya, curi-curi kesempatan gitu deh.  Dan  akhirnya tarikan gas motor, membawaku pergi meninggalkan  putrid di depan rumahnya. Kulihat dari spion, ia hanya tersenyum sembari melambai.
Huh..
setibanya di kostan. Aku merasa senang. Sambil masih berkhayal dengan kejadian tadi. Saat  itu aku melihat arya mer menung di sudut kamar kost. Nampak wajahnya gusar dan nyaris menitikkan air mata.
“kenapa loe?”Tanya ku
“gue putus nda” jawabnya sedih
Tiba-tiba kilat menyambar, dan sinarnya, membuat bulu kudukku berdiri. Dan hujan pun bertambah lebat kembali.

Jumat, 16 Agustus 2013

Cerpen Misteri - The Secret of The Toilet

 gw termasuk orang pendatang baru di dunia blog. bukannya suka copas. tapi memang copas atau copy paste itu pekerjaan paling mudah plus singkat. hehehe.. gw cuma mau ngawalin terbukanya blog gw nih dengan suatu cerita pendek. 
ya kalo menurut gw ini lumayan untuk di baca, ini gw copas dari 

link nya ada, mau di baca di sini atau di alamat yg diatas, ya terserah... :P 
selamat baca.

 

 

 

The Secret of The Toilet

   by: Ray Nurfatimah

Clakk….clakkk…clakkkkkk…..

Tetesan dari kran yang tidak tertutup rapat itu semakin menerorku yang hingga tengah malam ini sukar untuk tertidur. Kulirik bulatan putih didinding yang terhalang remang-remang malam.

“Huff….. mana baru jam sebelas empat lima lagi,” bisikku pelan.

Entah sudah berapa kali aku membolak-balikan bantal usang yang hampir tidak tersentuh sabun selama aku pindah kekosan Bu Alina. Maklum aku adalah seorang siswi kelas tiga SMA yang merangkap menjadi pelayan disebuah restoran siap saji.

Sebelumnya aku tinggal dikosan Bu Dian, tapi karena terbelit hutang kanan kiri, ya dengan terpaksa aku kabur. Padahal malam itu Kak Danar, putra bungsu bu Dian bersikeras menghalangi kepergianku. Aku harus pergi dari pada tiap hari kena omel bu Dian, belum lagi cibiran pedas dari penghuni kos lain tentang hutangku yang belum aku bayar.

Berbekal uang tiga ratus ribu rupiah, hasil penjualan ponsel lamaku . Aku memberanikan diri untuk tinggal dikosan baru dengan menjanjikan upahku sebagai pelayan restoran.

“Akhir bulan nanti segera cair, bu.” bujukku kepada bu Alina saat dia menolak rencanaku tinggal di kossannya.

“Bukan karena kondisi keuanganmu dek Mayang, tapi memang kamar kos disini sudah penuh.” Sahutnya lembut.

Ya memang benar, aku lihat rumah besar yang terdiri dari lima kamar dilantai satu telah penuh sesak diisi oleh sembilan orang penghuni kos dan satu asisten pribadi Bu Alina.

Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya beliau menyerahkan kamar putri semata wayangnya yang tengah mengenyam pendidikan di Jepang kepadaku.

“Haduh betapa beruntungnya diriku ini.” Fikiriku sesaat setelah Bu Alina mengesahkan kamar kebanggaan putrinya kepadaku. Betapa tidak kamar ini begitu luas dan satu-satunya kamar yang memiliki toilet sendiri. Apalagi bu Alina dengan cuma-cuma meminjamkan kasur dan meja rias milik putrinya. Hanya saja dia dia tidak membolehkan aku menggunakan lemari besar dikamar itu, mungkin karena lemari itu telah diisi penuh oleh barang-barang milik putrinya.

Tapi untung saja dimeja rias menempel sebuah lemari kecil yang masih bisa aku gunakan untuk menyimpan pakaian ku, dan sebagian lagi bisa aku gantung di pegantungan di belakan pintu.

Kembali kulihat jam, kali ini tepat pukul dua belas malam dan aku aku masih terjaga. Tiba-tiba “Wwhuuuuussshh……..” sekebat angin kencang masuk kerongga kamarku, menyisakan sosok putih yang melambai-lambai didepanku. Seketika aku terkejut, “Sial aku hampir saja membiarkan jendela terbuka semalaman.” Gerutuku sambil menutup jendela dan membenarkan tirai putih yang tersapu angin.
Aku kembali merebahkan tubuh mungilku di kasur besar nan empuk ini. Pelan tapi pasti mata ini mulai menutup.

Byuuuuurrrrr…… Suara guyuran air mengagetkanku.

“Jam segini siapa yang mandi sih? Ganggu orang saja!” gerutuku kuesal

Otaku mulai berfikir waras “Tapi asal suaranya dari…….” Entah mengapa bibirku benar-banar tertahan. Kulirik pintu toilet, dan benar saja dari lubang kunci pintu toilet sesosok wanita berambut panjang tengah tertunduk kaku dibawah cipratan air shower.

“Apa mungkin dia putrinya bu Alin?” fikirku membuyarkan rasa takutku sendiri.

Tanpa berfikir panjang lagi, aku segera beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuju tempat tidur, suara tangisan memaksaku untuk kembali.

“Kkenapa Mbak? Mmbak ggak kenapa-napakan?” tanyaku sedikit gugup.

Dia tak kunjung menjawab pertanyaanku, malah tangisannya semakin menjadi.

“Hiks……hiks…… tolong aku hikksss….”

Suara tangisan itu menggema mendominasi kamarku. Aku benar-benar panik. Sekuat tenaga kucoba rubuhkan pintu berbahan plastik itu, dan hasilnya nihil. Tangisannya pelan-pelan meredup. Kulihat kembali dari lubang kunci, dan betapa kagetnya aku saat kulihat tubuh wanita misterius itu kini tak utuh lagi. Berdiri lesu sesosok tubuh tanpa kepala, lehernya dipenuhi daging yang berantakan. Dan cipratan darah segar menodai dinding-dinding toilet.

Tubuhku benar-benar terasa bergetar dan tak bisa mengatakan apa-apa. Saat ku alihkan mataku kearah lantai toilet, tergeletak sebuah kepala berambut panjang bersama sebilah gergaji di sampingnya. Aku semakin berguncang hebat, entah apa yang aku fikirkan saat itu. Rasanya aku ingin berlari ke kamar penghuni lain untuk meminta bantuan. Tapi aku sama sekali tak bisa bergerak, piyamaku terjepit engsel pintu.

“Haaaaaaaaa…… tolong!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Dengan tergesa-gesa kugigit piyamaku. Dan Seeeeeetttt, bagian belakang piyamaku berhasil robek. Aku berlari sekencang-kencangnya memburu pintu keluar kamar.

Creek….creeeek…..

“Arrggght….. kenapa gak bisa dibuka? Aku semakin panik.

Segera ku ambil posisi kuda-kuda dan... Bruuukkkk…… tendanganku merobohkan sebilah pintu yang terbuat dari kayu.

Nafasku terasa sesak mencium bau anyir darah yang menusuk ke paru-paru. Tapi aku semakin menggila dan ketakutan saat kulihat pemandangan aneh dari balik pintu kamarku.

“Ttttoilet???” tanyaku bingung. Ternyata toilet yang sama, hanya saja yang membedakan tinggal kepala yang tergeletak dilantai.

Kepala berambut panjang itu pelan-pelan menoleh dan menyeringai kepadaku.

“Hyaaaaa…..!"

***

Creeeekkkkk

Seseorang membuka pintu kamarku, dia mnyeringai hangat dan mendekatiku.

“Rupanya kamu demam ya May?” sahut Bu Alina sambil menempelkan punduk tangannya di keningku.

“Syukurlah ternyata cuma mimpi,” bisiku pelan.

The End



By : Ray Nurfatimah