meinovasi bacaan
Minggu, 29 Januari 2017
Selasa, 08 September 2015
Varamedic
Varamedic
pagi dirumah sakit varamedic, rumah sakit swasta yang terletak dipusat kota. Linkungannya yang bersih dengan tata bangunan yang rapi. Apalagi liat perawat wanita dengan senyum manisnya, aduhai tergoda juga imanku.
Aku diberinama erald 18 tahun yang lalu oleh kedua orangtua ku. Tapi menurutku nama yang kusandang terasa nanggung. Mengapa tidak Gerald saja biar sama dengan legenda hidup asal klub liverpool, yaitu Steven Gerald. Tim bertabur bintang, dengan motto klub 'Your Never Walk Alone'.
Ngomong-ngomong soal bola rumah sakit ini erat sekali dengan dengan serdadu lapangan hijau, meski hanya skala bintang nasional. Mungkin hampir tiap bulan rumah sakit varamedic menerima pemain profesional liga negeri ini. Entah itu akibat cidera dilapangan hijau atau sesuatu sebab yang lainnya. Sebab jarak rumah sakit dengan stadion dan dua markas tim dikota ini sangat dekat. Hanya menempuh jarak hitungan menit.
Dan aku yang kesekian kalinya, menjadi pemain yang menghuni rumah sakit ini. Ya, aku penyerang di kesebelasan Garuda raja fc. klub yang bercokol diperingkat atas klasemen sementara liga sepakbola nasional. Aku singgah di varamedic karena sebuah tragedi dilaga sore tadi.
Saat itu tendangan pojok, andai saja aku mampu menanduk bola dan menembus jaring gawang lawan, papan skor akan berubah menjadi 2-1. Namun cerita berbeda yang kuterima. Bola hasil tendangan sudut rekanku, melambung melewati beberapa pemain yang berusaha menyundul, namun tak satupun tercapai oleh kepala mereka. Kiperpun sudah terbang untuk menggapai bola, sebisa mungkin aku berusaha mendahului sang kiper. Namun na'as bagiku, aku melopat dan kepalaku beradu dengan siku penjaga gawang hingga tak sadarkan diri.
Aku tersadar saat infus terpasang di lengan kiriku. Ditemani suster devi, begitu nama yang tertera di dadanya.
"Syukurlah kamu udah siuman" ucap perawat itu, aku mengangguk saja "kamu sudah seharian, gak sadarkan diri lho"
"Benarkah itu? Lalu Garuda raja fc versus Armada merah putih fc siapa yang menang?"
"Soal itu saya gak tau"
Aku kembali lemas, jika Garuda raja kalah, tentu saja menurunkan posisi timku di nomor dua klasemen sementara. Itu berarti kesempatan menjadi juara liga akan berat menanti. Sebab poin garuda raja kalah besar dengan yang duduk diposisi satu klasemen saat ini.
"Maaf devi, kira-kira kapan saya bisa pulang?"
"Kalau kamu udah mendingan, kamu bisa pulang hari ini" ucapnya sambil membawa nampan dengan hidangan kepadaku "silahkan dimakan, saya permisi dulu".
Selesai makan, pintu kamar pasien yang kutempati terbuka. Berjalanlah seseorang berkepala plontos dengan jas hitam yang ia kenakan.
Ternyata itu coach, dengan senyum formalnya ia menyapa ku.
"Kamu udah bisa, pulang hari ini. Administrasi udah saya tanggung"
"Baik, coach partandingan kemarin apa kita menang?"
"Hmm.. kita kalah 1-3 oleh armada merah putih" ucap coach lesu "ok segera berkemas, dua hari lagi kita bakal lawan klub tetangga, ksatria Xl fc, musuh berat kita"
Hari berganti hari, aku mulai berlatih dengan rekan-rekan. Coach meminta kali ini kami serius berlatih. Passing-passing pendek harus kami tinggkatkan, umpan jauh hanya boleh dilakukan jika ada kesempatan. Yang terpenting adalah rapatnya lini per lini antar pemain agar tim lawan susah masuk kepertahanan kita.
Selesai latihan, aku dan rekan-rekan kembali ke mess dan bersiap untuk esok sore berhadapan dengan Ksatria Xl fc.
Malam ini kebetulan kapten tim tidur sekamar denganku. Rekan setim sangat antusias dan menghormatinya. Dikarenakan ia adalah pemain senior di garuda raja. Sempat pula menjadi pemain timnas meski dengan caps yang bisa dihitung jari.
Ia memintaku untuk lebih banyak bergerak meski tanpa mengarak si bola bundar. Aku harus siap karena kapan saja bola akan mengarah kepada ku setibanya didekat gawang. Begitulah penyerang, harus punya insting yang baik untuk membobol gawang lawan.
"Ku beritau kau ya, garuda raja ada di posisi dua. Kemaren laskar trisula fc sedang hoki bisa naik kepuncak klasemen. Mereka dapat dua pinalti dimenit terakhir" ucap kapten sambil menunjukan dua jarinya.
"apa wasitnya berat sebelah?" Tanya ku.
"Mungkin. kau taulah sepakbola dinegeri ini. Dan yang pasti dua macth tersisa kita harus menang, sebab partai terakhir kita bakal lawan tim yang lagi hoki itu"
"Oia, di posisi tiga ada siapa?"
"Huft.. ksatria Xl fc, lawan kita besok" ucapnya meakhiri.
Nampaknya 2 macth tersisa adalah laga pertarungan harga diri 3 tim teratas. Semoga dewi fortuna ada dipihak tim yang aku huni.
Esoknya, big macth akan di mulai. Ksatria Xl fc berhadapan dengan Garuda raja fc.
22 pemain masuk dari dua klub berbeda. Didampingi tiga wasit yang akan mengawal laga kali ini. Ini derby sekota meski kami saling berbagi stadion. Kali ini tuan rumah ada dipihak kami. Garuda raja memakai jersey home garis-garis merah hitam vertikal. yang merupakan jersey kebanggaan bagiku. Dengan lambang paruh runcing serta sorot tajam mata sang garuda dan satu cakarnya minginjak bola. Menggambarkan keberanian sejati, dibordir indah didada.
Tim tamu yang merupakan tim tetangga menggenakan jersey putih dengan celana hijau. Lambang perisai segilima abu-abu bertuliskan Xl besar, dihiasi tulisan ksatria membentang diatas angka sebelas romawi tsb.
Oke, semua pemain saling berjabat tangan, termasuk kepada pengadil lapangan. Setelah lempar koin, kami mengambil foto tim yang akan dibidik lensa pers yang akan mengikuti macth kali ini.
Suporter makin riuh, yel yel pun mulai bergema layaknya marscing band. Atmosfer ketegangan sudah terasa, dan Kick off babak pertama dimulai "prittt"
Bola ada di kakiku, langsung ku umpan kepada rekanku di sayap kanan. Ia membagi bola kebelakang dan memainkannya dengan pasing-pasing pendek. Pemain ksatria sebelas terpancing keluar dari posisi mereka berdiri, walhasil lini tengah dan lini depan renggang garuda raja merangsek masuk kepertahanan ksatria Xl. Bola berhasil kapten dapatkan. Ia membawa bola ketengah, aku berlari mendahuluinya. Bola di bagi kearahku, tapi dikejar bek lawan. Duel sprint ku peragakan, aku berhasil melewati, lalu ku bagi bola dengan teknik umpan lambung berkelok menuju kotak pinalti. Sikulit bundar disambut sundulan rekan ku yang jangkung, bola melesat.
Namun sayang kiper menepis dengan tinjuan. Kembali bola melayang diudara. kapten mengejar, bola jatuh tepat dikakinya yang bersiap menendang.
Dan tendangan frist time itu melesat kearah gawang. Tapi lagi-lagi gawang ksatria Xl selamat, bola berhasil disundul keluar kotak pinalti. Bola yang melambung coba kukejar, aku melompat dan berduel diudara. Aku dapatkan bola tepat di dada, ku kontrol sesaat. Bola jatuh dikaki kanan, kaki kuayun bola kutendang. Melesat menuju sudut mistar gawang dan jebol. Gooool... 1-0 untuk garuda raja dipertengahan babak pertama.
Aku langsung berlari menuju sorot kamera, kucium mesra logo klub didada. Sorak penonton membahana melantunkan nama Garuda raja. Tiupan trompet bersahutan seakan tengah berpesta.
Ksatria berganti menyerang tapi serangan mereka lemah, bola dengan mudah disapu keluar beberapa kali dari daerah pertahanan garuda raja. Counter attack hanya kami peragakan, tim ku terus ditekan hingga habis babak pertama. Gol tunggal masih menghias dipapan skor.
Menuju ruang ganti, kaki ini melangkah bersama dengan kaki-kaki pemain dan staf garuda raja lainnya.
Duduk dilantai, kaki kupanjangkan dan seteguk air mineral membasahi tenggorokan yang mengering. Sambil melepas penat, kunikmati instruksi pelatih yang memainkan spidol diatas papan berbentuk lapangan sepakbola.
Menurut coach, tim kami ternyata kendor disisi sayap dan tengah, dimana transisi menyerang dan bertahan berada. Aku dan tim diistruksikan untuk tampil all out dengan pressing ketat bila lawan ganti menyerang. Lalu ditutup dengan doa bersama menuju babak kedua.
Suasana stadion mulai bergemuruh, apa lagi suporter ditribun selatan yang selalu menabuh drum dengan iringin yel yel semangat militansi. Ya, itu ultras Garuda, suporter fanatik kami.
"Prittt"
Babak kedua dimulai, ksatria Xl mulai menyerang, memperagakan umpan satu dua yang baik. Pergerakan bola slalu dimulai dari sayap kanan. Datang menyerang bertubi-tubi, memberi shock teraphy di lini belakang garuda raja. Namun bek timku ini masih mampu menghalau serangan demi serangan.
Akan tetapi Garuda raja masih terserang, begitupun dengan counter attack masih tumpul dan terkadang bola berhasil direbut lawan sebelum lewat kotak pinalti.
Setengah jam bermain, jebakan off side kami gagal. Seorang penyerang ksatria Xl mengejar bola sendirian meninggalkan seluruh bek garuda raja. Alhasil kiper maju melakukan duel mengejar bola dengan lawan. Bola berhasil dikuasai pemain tersebut. kiper terkecoh, bola meluncur deras diantara dua kaki kiper. bola masuk dan terdiam disudut kiri jaring gawang. Gol 1-1, ksatria Xl berhasil samakan kedudukan.
Akh.. kesalahan yang fatal. Kulihat rekan setimku saling menyalahkan. Raut muka seluruh staff nampak kecewa dengan ekspresi berbeda. coach serasa kebakaran jenggot, ia langsung berdiri hingga pinggir lapangan. membentak seluruh anak asuhnya termasuk aku.
Setelah terjadinya gol tadi. Garuda raja mulai bangkit, permainan dari kaki ke kaki coba diperagakan. Lini tengah mulai berani memainkan bola. Sibundar di over kepadaku, aku dribling. kapten membututi ku dan berlari mendahului, tangannya seraya meminta bola. Umpan datar kuberi padanya. Bola lolos dari halangan kaki lawan. Kapten berlari dan berhenti sesaat. Aku masuk kekotak pinalti. Bola diangkat kapten, terbang melawan gravitasi lalu jatuh, aku coba heading dan....
Tik.. tik.. tik.., suara itu memaksaku untuk membuka mata. Itu dari arah jam dinding yang berdetik. Kepalaku terasa berat, seperti ada luka. Begitu juga bahuku, seakan-akan tak terasa dan sulit ku gerakan.
"Erald, syukurlah kamu telah sadar. Kamu pingsan lagi, karena beradu kepala sama lawanmu" ucap si perawat yang sama dikasur yang sama tentunya di varamedic. Lagi-lagi aku mengalami benturan, untung saja aku masih mengenali diriku sendiri.
"Jangan banyak bergerak, luka dipelipis matamu belum kering"
"Siapa yang menang? Garuda raja lawan Ksatria Xl ?"
"Hmm.. Pertandingan masih berlangsung, kamu baru saja tiba diruangan ini" ucap Devi
"Cepat nyalakan tv" nadaku meninggi.
"baiklah" ucapnya dengan terpaksa.
Tv dinyalakan, devi langsung mencari siaran macth kali ini.
"Nah yang ini" ucapku
"Ya permisa hasil seri ternyata akan terjadi jika saja Garuda raja tak mampu menggandakan kedudukan dikesempatan terakhir ini. Tentu ini sebuah kerugian besar, karena Garuda raja hanya meraih satu point. Itu artinya, Ksatria Xl bisa saja menyalip sang tetangga garuda raja." Komentator berujar dalam tv.
"Pritt.. pritt.. pritt" peluit itu nyaring dipendengaran ku.
"Baiklah permisa, hasil imbang hanya mampu diraih dua kesebelasa. Kami kembali setelah comercial break berikut ini"
Akh.. kesal rasanya andai saja aku bisa menanduk si kulit bundar, buka kepala orang, pasti tim ku menang. Karena aku yakin itu akan berbuah gol
Esoknya aku diperkenankan pulang. Kembali ke mess pemain dengan rasa sakit dan kekecewaan. Rekan-rekan ku menghampiri dan menyemangati diri ini. Oke hari ini aku hanya akan recovery dan macth melawan laskar trisula fc entah akan diturunkan atau tidak.
3 hari berlalu, dan waktu macth terakhir datang menghampiri segenap pemain dan staff kepelatihan. Macth terakhir yang menentukan gelar juara. Sebab, posisi kami dinomor dua dengan 45 point. Dipuncak ada laskar trisula dengan 46 point. Namun Ksatria Xl dapat saja mencuri gelar jika mereka menang melawan armada merah putih di macth terakhir, sebab point mereka sama dengan Garuda jaya. Mungkin sudah jodoh, kami sekota, satu stadion dan rumah sakit varamedic serta point dalam table klasemen sementara.
Aku menatap luar jendela kamar mess pemain. Dimana rekan-rekan kusudah menunggu bis, yang akan menghantarkan tim menuju stadion. Rasanya tenagaku takkan terpakai, saat laga nanti. Aku hanya akan mengurung diri di mess pemain untuk beristirahat.
"Hay erald kau tak berkemas" ucap sang kapten, kurasa ia menatapku sedang berputus asa.
"Aku cidera, pasti coach menyuruhku beristirahat"
"Oh ayolah bung, jika starting line up tak kau dapati. Supersubs bakal diberi. Pemain sejati asanya tak pernah mati ! Paham kau" ucapnya memberi semangat.
Benar juga apa yang dikatakan kapten, aku belum tentu tidak diturunkan di macth terakhir. Bahkan coach tidak membenarkan pernyataanku barusan. Itu artinya aku teteap berada di skuad Garuda raja. Kapten tersenyum melihatku tersenyum.
Rombongan menaiki bis, menuju stadion kebanggan kami. Partai home terakhir ini sungguh mendebarka. Para pemain garuda raja masing-masing terduduk pada bangku bis dengan headset dikepala dengan berbagai musik yang menghentak. Ini terapi agar pemain tidak memikirkan apa-apa atau tidak nerveous.
Sesampainya distadion, seluruh pemain memakai jersey masing-masing namun aku harus menabah rompi hijau di tubuh ini untuk menandakan pemain cadangan.
Macth segera berlangsung. Bendera fair play masuk digiring 4 anak gawang. lalu berdiri di tengah lapangan menghadap tribun VIP. Starting eleven kedua tim masuk dipimpin wasit yang melangkah membunti kelakuan si pembawa fair play tadi. Setelah bersalaman, rekan-rekan ku di Garuda raja melakukan photo tim. Ini kali pertama, aku melewatkan jepretan lensa pers.
Dengan jersey garis merah hitam vertikal, kostum kebesaran tim yang kuhuni. Kulihat dari bench cadangan, sikapten garuda raja melompat-lompat melakukan gerakan pemanasan dititik kick off. Sedangakan dipihak lawan terlihat tampang-tampang bengis berjersey serba putih dengan garis merah di bagian pinggang bakal menjadi lawan serius kali ini.
"Prittt"
Permainan dimulai, bola dikuasai penuh di lini tengah. Dua penyerang mulai berlari membuka pertahanan. Akan tetapi tim lawan bergerak cepat, mereka mulai mempress satu persatu penyerang garuda raja.
Laskar trisula memberikan perlawan nyata, dimana duel satu lawan satu selalu dimenangkan mereka. Serangan mereka bagai banteng mengamuk, menyeruduk lini tengah yang diisi empat pemain hingga jebol disetiap serangan menghampiri daerah pertahanan garuda raja. Tapi untunglah, empat matador bek timku ini selalu menyapu bersih setiap bola yang datang.
Namun laskar trisula tidak kehilangan akal. Mereka mencoba pasing-pasing pendek dan umpan satu dua didaerah sayap kiri. Ternyata hasilnya selalu tembus, mereka menyebar ancaman berkali-kali melalui umpan lambung kekotak pinalti yang pastinya akan disusul dengan tandukan serdadu laskar trisula. Tetapi, tak satupun bola menyenggol tiang gawang.Keasikan menyerang, garuda raja mampu menggetirkan lutut-lutut pemain laskar trisula, melalui counter attack cepat kapten dan penyerang pengganti diriku menjadi duet maut yang membahayakan lini belakang lawan. Berulang kali mereka lolos dan menempatkan bola pada target namun berulang kali bola ditepis, ditip, atau ditinju penjaga gawang bahkan mengenai tiang. Dan berulangkali, aku beserta staff gigit jari, apalagi coach berulang kali ngamuk tak menentu memberi arahan dipinggir lapangan.
Prit.. prit.. prit.. skor kaca mata hadir dibabak pertama.
Muka-muka letih pamain kedua kesebelasan nampak jelas saat mereka berbarengan masuk kelorong ganti
Emosional Coach tak terbendung, semua pemain dimaki habis-habisan di ruang ganti. Namun staff lain dapat menetralisir keadaan, mereka terus memotivasi kami.
Pritttt
Babak kedua dimulai, garuda raja selalu menyerang, mengunci pertahanan laskar trisula. Namun press ketat kesebelasan lawan terlalu tangguh. Bola umpan lambung jadi andalan garuda raja tapi tak satupun mencapai target. Kebanyakan melenceng dan mampu ditanggkap kiper lawan.
Dua puluh menit berlalu, kedua tim belum juga pecah telur, coach garuda raja masih ketar ketir melihat anak asuhnya masih buntu didepan.
"Erald kamu pemanasan cepat" ucap coach tanpa melirik.sumringah aku mendengarnya serdadu laskar trisula."Siap coach" ucapku.
Aku mengikuti perintah, aku berlari-lari kecil memutar lapangan. Menggerakan anggota badan dan melopat-lompat kecil. Meski bahu masih terasa sakit jika digerakan.
Kertas pergantian pemain diberi kepadaku, kuberikan kemeja panpel. dipinggir lapangan dengan kostum nomor 7 aku Erald bersiap diri. Papan pergantian pemain diangkat asisten wasit ketiga. Angka 7 berwan hijau masuk mengganti angka 20 berwarna merah.
Yap.. aku masuk kegaris putih lapangan hiaju. Kini aku berada dimedan laga, kembali dengan atmosfir yang kudambakan.
Bola meluncur kepadaku, ku dribling menuju lini tengah lawan. dua pemain laskar trisula datang menghadang. Kapten berada didepanku, bola kuumpan datarkan. Dua pemain lawan beralih mengejar kapten. Aku bebas, langsung bergerak cepat menuju kotak punalti. Bola kembali disodorkan kepadaku, tanpa kontrol kaki kanan kuayunkan. Bola terbang rendah menuju gawang, namun dengan sigap ditangkap pemain terakhir laskar trisula ini.
Akh.. sial ungkap ku dalam hati. Sikulit bundar di permainkan di lini tengah. Para Gelandang saling berperang demi menjauhkan bola dari medan pertahanan
Kembali bola aku kuasai, didepan lawan menghalangi dengan sengaja kukolongi. Bola liar memasuki kotak pinalti, aku coba mengejar tapi pergerakan lawan coba menghalangi. Aku bingung, gelandang sayap berlari ditepi garis berada dibelakangku. Dengan cepat kusapu bola dengan tumit, aku bergerak masuk mendekati gawang. Bola disodorkan kembali padaku melewati pemain lawan. Utak atik sedikit, lalu berhadapan dengan kiper, kiper bergerak mencegahku. bola kuumpan lambungkan menuju tiang jauh. kapten datang menanduk bola. Bola melesat menuju gawang yang benar-benar kosong dan goooool tercipta. Yeah.. aku kepalkan jari tinggi-tinggi.
Kapten lalu menuju sudut stadion, melakukan selebrasi meninju bendera corner kick. Diakhiri pelukan pemai garuda raja. Kedudukan 1-0, sepuluh menit lagi juara menanti.
Laskar trisula datang menyerang, membabibuta pertahanan kami. Kemelut terjadi didepan gawang garuda raja. Bola berusaha dibuang center bek namun membentur rekan sendiri, bola liar berusaha dikejar lawan. Bola dapat di ujung kaki yang terangkat oleh pemain laskar trisula, sibundar kembali melayang dan menukik tajam. kiper takbisa menjangkau. Bola melesat menghujam tiang dalam. Balik badan, kiper berusaha menepis. Oh tidak bola jatuh melewati garis gawang. Tangkapan tidak sempurna membuat bola meuntal kegawang sendiri. Skor menjadi seri 1-1. Garuda raja tertunduk lesu.
Tenaga ekstra kami keluarkan dimenit terakhir, selepas kick off bola menyisir sisi sayap kanan. Aku berlari menuju tengah kotak pinalti. Kapten pun berusaha mengejar bola yang sudah dilepaskan. kiper datang terbang menghadang, duel udara sengit terjadi. Bola ditepis kiper namun bola bergerak membelakangi keduanya menuju aku yang bebas tanpa kawalan, tanpa ampun frist time kulakukan. Bola melesat masuk jaring gawang. gooool skor berubah 2-1 untuk garuda raja.
Kick off dimulai kembali oleh kubu lawan. Mereka coba datang menyerang. Namun dengan mudah dipatahkan lini tengah. Perebutan bola diudara menghasilkan sepakan lambung dari kapten dari lini tengah, bola melambung menuju kotak pinalti. Liar, sibundar tak ada yang mengejar, dengan sigap aku bergerak menyilang masuk kelini tengah lawan. Lawan mulai berlari mengejar ku. kiper pun datang menghadang. Bola sama-sama ditendang. Sibundar meuntal lagi diudara. Aku menyundul pasti,lawan loncat datang menghadang, tapi terlambat. Sikutnya datang menghantam kepala ku. Namun bola melesat tak tergapai kiper.
Akh.. aku tak bisa melihat, perih terasa. darah segar mengalir dari bekas luka, mengikuti pola wajah. Raga ini ambruk, tersujud. Akh.. ini semakin menyakitkan. Mungkinkah aku melewatkan lagi akhir laga? Sebab ini ketiga kalinya, tragedi yang sama terjadi. Mungkin aku akan terbangun dan menjumpai lagi devi? Aku tak tau, kini aku lunglai.
"Gooool.." sorak sorai penonton membahana. Ya, aku masih bisa mendengar mereka mengakbarkan kata gooool. Rekan-rekanku datang memendekat, melihatku merukuk bersimbah darah. Kapten sampai tak tega melihat kuberdarah hebat. Tim medis segera menemuiku. Dengan tandu seorang wanita muda mengajaku menuju pinggir luar garis lapangan. Dalam posisi tidur aku diberi perawatan.
Prit.. prit.. prit..
Kudengar supporter berteriak dengan kegirangan. Kembang api meletus duarr duarr. Bomb flare merah meletus diudara, begitu pula warna hitam, memperindah kemenangan ditribun selatan dimana ultras garuda memberi dukungan.
"Selamat atas kemenangannya, kutunggu kamu kembali di varamedic" ucap wanita itu lalu tersenyum saat mengakhiri perawatan. Tunggu dulu, varamedic? Siapa yang merawatku tadi? Perawat itu kah?
Para pemain garuda raja datang menghampiriku. Memeluk-meluk diriku, mengusap halus kepala ku dan kurasa mereka cukup hati-hati dengan pelipis berperban.
Mereka menggotonggku sambil mengarak mengitari stadion. Saksi bisu juara liga nasional kali ini. Yaitu Garuda raja, raja di kandang sendiri.
Beberapa hari kemudian
"Hari itu benar-benar berpesta, Kami berlari menunjukan piala pada ultras garuda diseluruh tribun. Sehabis dikalungi medali emas oleh menpora dan jajaran petinggi Asosiasi tentunya"
"Ultras garuda, maksudnya?"
"Itu nama supporter Garuda raja, vi"
"Oh.. hahaha, kukira apa"
"Oia ngomong-ngomong raja nih, kamu mau gak jadi Ratu dihati ku" mukanya memerah. Ia memukul manja pundakku yang baru saja ia perban.
"Auuu... sakit, vi"
"Maaf" ia menutup mulut dengan sepuluh jari. Raut wajahnya menyesal.
"Sakitin lagi dong.. vi biar bisa terus kamu rawat" ucapku kembali mengoda.
"Ihh.. gombal deh" ujarnya seraya mencubit hidungku. Mungkin saat ini wajahku memerah.
"nanti aja jadi penyerangnya ya. Aku gak mau hatiku kamu bobol kalau kamu gak istirahat" cieee.. aku dapat gombalannya, tanpa menyesal ia melangkah pergi keluar meninggalkanku dengan senyumnya tadi, yang melekat di ingatanku. Kukira, ia sedang melakukan hal yang sama denganku. Ya, semoga saja begitu. Gelar juara didapati, cinta perawat pasti kuraih. Dalam pejaman Mata, senyum ku utarakan untukmu, Devi. perawat varamedic.
Rabu, 15 Januari 2014
Cemburu tanda (terlalu) cinta?
Cemburu
tanda (terlalu) cinta?
Keadaan ruangan itu
gelap dan remang-remang, saat sepasang muda-mudi mencari suatu barang. Ialah Fay,
lelaki bertubuh atletis itu, masuk menemani Yuna kekasihnya, gadis penakut yang bawel. Mereka berdua berniat
masuk mencari sesuatu. Kaca mata renang, ya, benda itu yang mereka cari. Dengan
sinar senter hape yang mereka pakai, mereka bersama-sama mencari kacamata
tersebut di antara kelamnya ruangan, dus-dus kosong dan sarang laba-laba serta
debu.
“ memangnya dimana
letak kotaknya, yun?” Tanya fay
“kata bibi, di
sudut gudang, berlawanan arah sama kaca fentilasi”
“barangnya ada
kan?”
“ada kok, itukan
punya…” ucapannya terputus
“punya siapa?”
Yuna tak menjawab,
tapi ia berhasil menemukan kotak yang mereka cari. Fay pun tak memperdulikan
pertanya tadi, ia terlihat bahagia saat mendapatkan kacamata renang yang yuna
punya. Lantas tak butuh waktu lama, kacamata itu sudah terpasang menutupi
sepasang bola mata Fay.
Sedangkan yuna,
masih mengorek-ngorek benda didalam kotak itu. Ia dapatkan sebuah album foto
yang dihiasi debu. Album yang sebesar buku catatan. Lebih tebal dan berisikan
banyak lembar foto. Fay kebingungan saat ia melihat benda yang yuna pegang.
Yuna sekejap membalik-balikan lembar demi lembar kertas foto ukuran 4r itu
dengan sinar senter seadanya. Fay penasaran ia mendekatinya, mencoba mengintip
sekilas album foto Yuna.
“eits….rahasia
cewek tau!” ujarnya pada Fay, albumpun di tutup.” Yuk keluar” ucap Yuna
mengakhiri. Alhasil niatan Fay melihat foto yang membuat ia penasaran, menjadi
sia-sia.
Fay berkemas, hari
ini ia akan berpacu didalam air kolam. Ransel berisi perlengkapan renang, ia
gantung di kedua pundaknya. Lalu Fay berjalan masuk menuju ruang tamu, di mana
yuna sedang tenggelam dengan kenangan
yang terlangkul dalam album kepunyaannya. Fay menjadi semakin penasaran akan album
foto Yuna.
“yuna, yuk kita
pergi” ucap Fay pada Yuna. Tapi kenangannya dalam foto membuat telinganya non aktif untuk sementara. Fay terlihat
jengkel, gusar, tanganya di kepal seakan-akan ingin meninju.
‘kecoaaaa….” Teriak
Fay, Yuna sontak terperanjat
“aaa… kec… kec…
kecoa, mana-mana” pekik suara Yuna, yang kini berdiri di kursi, seolah-olah
menyelamatkan diri dari kapal yang hendak karam.
“dah keluar, mau
beli bakso kali, hehe” ucap Fay, melantur.
“kamu nih ada-ada
aja, kalau aku jantungan gimana?” sanggah Yuna
“lagian serius amat
ngelihat fotonya” jawab Fay
“week… biarin” ucap
Yuna mencibiri Fay, sambil menjulurkan lidah
“ayo kita pergi”
ucap Fay mengajak kembali Yuna pergi
“maaf beibh, mama
nyuruh aku dirumah, hari inikan baru kualifikasi. Besok aku pasti datang”
“yah kok begitu”
Yuna tidak member
jawaban, ia menghampiri Fay yang sedangtegak di depan pintu. Yuna menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir
pacarnya. Sembari mengangkat lengan kanan Fay. Nampak arloji yang sporty,
bertuliskan 10:00, sebagai isyarat agar Fay cepat pergi. Fay setengah
kaget, tanpa buang waktu lagi, Fay pergi
saat bibirnya terbebas dari telunjuk kanan Yuna.
*****
Fay datang nyaris
terlamabat. Membuat pelatihnya meradang. Fay yang keras kepala, begitu saja
lari menjauh dari ceramah sang pelatih. Fay berlari sangat kencang, karena
namanya sudah di perdengarkan oleh panitia. Lantas ia masuk ruang ganti dengan
terburu-buru, fay langsung menanggalkan pakaiannya dengan menyisakan sebuah
celana pendek ketat yang tertempel di bagian bokongnya. Dilanjutkan dengan
memakai penutup kepala yang elastis. Lalu sambil berlari ia memasang kacamata
renangnya.
‘bruk’ tubuh fay
tersungkur, seseorang tanpa sengaja menghalangi laju kencangnya. Lelaki itu
segera membantu fay. Orang itu menjulurkan lengannya dan hendak membantu Fay
kembali berdiri. Namun reaksi penolakan bercampur amarah meradang di lubuk hatinya.
Fay pun bangkit sendiri dan berlari lagi.
“kacamatanya…” ucap
lelaki yang sebentar ini bertabrakan dengan Fay, dari sorot matanya, orang itu
merasa mengenali kacamata yang Fay pakai. Mendengar orang itu berteriak Fay
lantas berputar membalikan badan. Kembali menghampiri pemuda itu dengan muka
ketus, tanpa berbicar sepatah katapun hingga ia naik ke podium start
*****
Ruang ganti
perenang. Kursi besi ringan yang memanjang dan locker yang berjajar saling bersebrangan menjadi tempat pesakitan. Fay
lemas dan hanya melamuni saat ia terjun ke air. Berbasah-basahan memperagakan
skill renang gaya bebasnya, saat tangan dan kaki berganti-gantian mendorong
tubuhnya melaju di permukaan air. Namun di tengah lintasan renang. Kakinya
tiba-tiba kram dan pintu kekalahanpun tergambar jelas di ingatannya.
Dengan muka membara, pelatih Fay datang. Buku
yang digenggamnya kini menyerupai alat pukul. Wajah Fay terlihat gelisah.
Matanya tak tentram memandang ekspresi muka pelatihnya.
“kenapa?
Kalah ya?” ucap pelatih. “ya jelas, wong kamu gak pemanasan” sindir sang
pelatih
Fay
masih tertunduk lesu dengan rasa penyesalan.
“ok! Cuma ada satu
kategori lagi. Gaya punggung, dua hari lagi” ujar pelatih sambil menganggkat
dua jemarinya
“tapi pak…” ucapan
fay terputus
“bapak tau, kamu
belum menguasainya kan” ucap pelatih, pemuda yang seakan sedang di introgasi
itu hanya mengangguk tak bersuara.
“Cuma itu yang bisa
kau perjuangkan nak, bila ingin lanjut ke tingkat nasional’ tambahnya sembari
menepuk pundak muridnya dan berlalu
meninggalkan Fay. Fay kembali termenung, sepuluh jarinya kini bertumpuk di wajahnya.
*****
Embun pagi terasa
menyapa kulit tangan yuna, yang sedang merobek dedaunan tepat di halaman depan
kelas yuna. Dinding bercorak putih abu-abu menjadi background saat tubuh Fay
menyandar di bangku santai kepunyaan sekolah. Pemuda itu tambah terpuruk, saat
ia melihat bahagia di wajah yuna. Ada apa dengan yuna? Pekik fay dalam hati.
Aku disini sedang bersedih. Tapi kenapa dia bisa tersenyum? Bicara batin fay
Yuna mendekati fay,
tampak pacarnya sedang merasa susah, jamarinya kini mengelus-elus rambut
pangeran cintanya. Fay tak menanggapi tatapan yuna kepadanya, ia lantas
berganti memandang langit-langit. Di ujung sadarnya, Fay teringat kekalahanya
kemarin. Namun
Yuna tak taukah kalau kekasihnya kalah.
Yuna tak taukah kalau kekasihnya kalah.
“beibh, kok mukanya
ketus gitu?” Tanya yuna
“kamu kok
senyum-senyum aja dari tadi” fay balik bertanya
“ Senyum? mana ada?
Kamu kenapa sih? Belum jawab pertanyaan aku juga”
Fay tak menjawab
pertanyaan Yuna. Kesal dan bingung kini hinggap di benak yuna. Namun Nina,
teman sebangkunya datang. Dengan cepat ia menggengam tangan yuna. Ia berdalih
minta di temani ke wc. Gadis cantik itu tak kuasa menolak ajakan nina. Fay
bertambah kesal.
Tas tali samping
berwarna pink kepunyaan yuna, saat ini tersandar di samping tubuh Fay. Badan
lemasnya terangkat, saat tas pacarnya bergetar, pertanda ada hp Yuna di
dalamnya. Matanya terbelalak saat ia
baca beberapa pesan dari seseorang bernama ‘Marta’. Inboxnya pun Fay jelajahi,
di lihatnya kini satu per satu pesan yang masuk sedari kemarin, penuh dengan
kata-kata yang mencurigakan. Ternyata orang ini yang mengalihkan dunia yuna,
bentak Fay dalam hati.
Fay emosi, matanya
memerah seperti kerasukan setan. Namun ia mencoba bersabar, ia letakan kembali
hp yuna, kekasihnya. Tapi ternyata mata fay tertuju pada album. Ya, album foto
yuna. Terlihat usang, persis seperti yang ada dalam gudang kemarin. Menjadi
tanda tanya besar dalam hati Fay, buat apa album itu yuna bawa?
Rasa cemburu Fay
kini berapi-api, saat indra penglihatannya, memandang beberapa foto pacarnya
dengan orang lain, mereka tampak mesra, begitupun halaman-halaman selanjutnya
yang dibuka. Ia berhenti sejenak, ketika
melihat seseorang itu menggenaakan baju renang. Akan tetapi ia merasa mengenali pria dalam foto
itu. Tiba-tiba badai di ingatannya hadir
bertubi-tubi, mencobamengingat kembali, kapan ia mengenal pria misterius di
photo Yuna serta menggambari apa saja yang telah ia lewatkan kemarin. Dan
ingatan itu jatuh pada saat fay bertubrukan dengan seorang pria sepantarannya.
Fay muak. Sikapnya
beringas, dengan kesal ia lempari album usang itu. Yuna yang bebas dari tawanan
Nina, tak sengaja melihat bagaimana album usang itu melayang berputar bagai
boomerang lalu tercampak begitu saja. ia melihat Fay, sang pujaan hati
melakuknnya.
“siapa marta?” ucap
Fay berang
“bukan siapa-siapa
beibh” ucap yuna menenangkan
“jelas siapa-siapa”
nada bicara fay mulai meninggi ”karena sms-nya selalu kamu balas” ucap fay
berapi-api
“aku kalah!”
ucapnya agak merintih “satu titikpun
pesan tak datang ke hp ku”
suaranya mulai serak. Ia berdiri dari duduknya. Mendekatkan lapisan bibirnya
pada telinga kiri Yuna, sambil berkata “maaf!. aku membuang album berisi pria
brengsek itu” ucap Fay sambil menunjuk
kekesalan kearah album usang itu, yang telah mendarat di tempat sampah.
‘plak’ satu tamparan
mendarat di pipi kanan Fay. Fay menatap kesal Yuna. Urat-urat lehernya terukir
jelas seperti akar. “ok! Fine…” ucap fay. Isak
tangispun pecah, satu per satu air dikelopak mata yuna menetes. Saat itulah
kaki fay menghatarkan ia menjauh meninggalkan yuna.
*****
Esoknya, tiba
saatnya Fay untuk berlomba. Hari ini perhelatan terakhir lomba renang. Fay tak
ingin impiannya gagal, ia kini melakukan pemanasan di tepi kolam. Namun masalah
sekarang berkumpul menghujat setiap denyut-denyut urat sarafnya. Membebani alam
sadar fay. Wajahnya tegang, bagaimana tidak? Ia akan berlomba pada kategori
yang tidak ia kuasai.
Tak sengaja ia
melirik seseorang yang tersenyum. Lalu meneriaki ‘ayo fay semangat’. Orang itu
adalah Yuna. Namun wajah kesal itu masih kental di lingkaran mukanya. Ia masih
kesal dengan gadis yang ia pacari, meski sekarang gadis itu sedang duduk di tribun penonton.
Dari balik ruang ganti, marta datang, ketika
fay sedang berlari mengitari kolam renang. Fay yang telah mengenali jelas wajah
Marta, berjalan mendekati lelaki yang sedang bercengkrama dengan beberapa
perenang lainnya. Namun suara langkahnya di ketahui marta.
“oh hay bro” ucap
marta. Tiba-tiba Fay meradang. ‘bugggk’satu pukulan tepat di pelipis kiri, saat
sapuan tinju Fay mengenainya, tak khayal darah mulai bercucuran di pelipis pria
itu. serta membuat pria tak bersalah itu terdorong hingga terjatuh. Tak sampai
di situ, kini Fay menggengam kerah baju marta, mengajaknya setengah berdiri.
Lalu 2-3 pukulan mentah menghantam ujung bibir beserta hidung mancung pria itu.
Sedetik kemudian, situasi panas itu menjadi kondusif. Saat para perenang dan
staf lainnya datang melerai.
Yuna berlari menuju
ke bawah tribun. Setelah ia menyaksikn secara langsung sang pacar menganiaya
mantannya. Kala itu, yuna menjadi serba salah. Gara-gara dia Marta dan Fay berkelahi.
Gara-gara kecemburuan Fay malapetaka pun terjadi.
*****
Ruang ganti kini menjadi
ruang peskitan mereka bertiga. Mereka saling acuh kecuali Yuna. Yuna memandang mereka prihatin
“Fay, sekarang kamu
udah tau semua. Marta ini mantan aku”ucap yuna. Tapi Fay seolah tak
mendengarnya. Ia hanya menetap kosong menghadap ubin lantai “aku tau, aku salah
tapi bukan kayak gini caranya Fay” ucap yuna agak meninggi
“terus bagaimana
caranya?”ucap Fay singkat
“caci aku, maki
aku. Aku dapat menerimanya” pinta yuna
“kalau kayak gitu,
hati gue gak lega” jawab Fay tanpa melirik yuna
“dasar psikopat lu”
sanggah marta, Fay menggidik
‘diam lu, perebut
pacar orang” ucapnya sambil menunjuk Marta
“eh budek, gue
mantannya lu gak denger” ucapnya sambil memegang telinga “ yuna kangen sama
gue, memamg salah”
“diam…diam..”
Berang Yuna sambil menyeka air mata ”disini aku yang salah. Ini semua tak kan
terjadi kalau aku terus terang ke kamu fay”
“enggak yun, kamu
kamu gak sal…”
“marta tolong
ngertiin aku” ucap yuna memotong pembicaraan marta.
“Fay aku minta
maaf” yuna berusaha menenamgkan fay hingga air matanya jatuh berlinang. Namun
Fay sama sekali tak member jawaban, bahkan melihat pacarnya saja tidak “beri aku kesempatan satu kali lagi untuk
dapat mempertahankan cinta kita”
Terlihat fay agak
melunak. Pria itupun bangkit dari duduknya. Ia menatap yuna bagaikan menatap
bola salju yang membawa ketenangan. Yuna menatap pacarnya. Ia yakini segala
perkataan, bujukannya tadi akan merasuki segmen pada fikiran Fay. Ia merasa
dapat menenangkan banteng yang tengah
mengamuk di depan matanya. Namun pandangan Fay tiba-tiba seakan berapi-api. Dan
mengangap kata-kata Yuna hanya sepintas lalu di telinganya.
Fay kini menjinjing
tasnya, ia berdiri dan bersiap melangkah menjauhi kekasihnya. Dengan sigap yuna
menggengam lengannya.
“kamu mau kemana?
Kita belum selesai ngomong” rintih yuna.
Fay tak menjawab.
Ia melepaskan rangkulan yuna dan pergi meninggalkan yuna. Marta mencoba
mengejar Fay. Ia tak terima mantanya di perlakukan seperti itu. Namu usahanya
saia-sia, Fay dengan emosi mendorong pundak Marta sampai ia terjerembab
membentur dinding lorong ruang ganti.
Yuna hanya mampu menahan tetes demi tetes air
matanya, tapi tangisnya pecah tidak terbendung, hingga ia tersandar di ujung kerangka
locker room. Dalam hati kecilnya ia berharap Fay mau memaafkannya. Dan mengukir
jalinan cintanya seperti sedia kala.
Fay kini sudah di
luar arena kolam renang. Sambil berlalu, ia menyaksikan para perenang lain
berlomba. Sang pelatih bahkan membuang muka untuknya. Fay tau tindakannya
sangat tidak professional untuk menjadikanya seorang atlit. Melihat pelatihnya
bersikap begitu, membuat matanya berkaca-kaca. Tetapi fay tidak bisa merubah
keadaan, ia tetap tak bisa berpacu di atas air. Secara sah ia telah di
diskualifikasi.
Minggu, 17 November 2013
Teman ilusi
Teman ilusi
sejak ayah dan bundanya
bercerai,terpisah jauh tak lagi bersama. Tara, gadis gadis manis yang baru
minginjak masa remaja. Dan baru saja merayakan happy seventeen, berubah sikap
dan gaya bertemannya.
Sebenernya tara sudah merasakan
keretakan hubungan orang tuanya. Dia penah mendengar nama wanita lainselain
mamanya. Tapi ia tidak sanggup untuk melerai. Ia hanya berharap pertengkaran
ini hanya bumbu kehidupan keluarganya.
Kini ia hanya termenung meratapi
kelangsungan hidupnya. Ia selalu berada di sebuah ayunan bertalikan tambang.
Tempat yang menurutnyaaman dan nyaman. Pohon mangga yang rindang itu, sekarang
menjadi rumah keduanya. Iahabiskan waktu sambil menatap kosong tak berirama.
Waktu itu hujan turun lebat dan
beranginkan putaran dedaunan. Iatersadar bahwa hujan mulai turun. Tara pun
bersiapuntuk berteduh. Namun langkahnya tertahan, ada seseorang yang menggengam
tangannya.
“jangan pergi, hujan sudah lebat. Kamu bisa sakit nanti”
ucap orang misterius itu.
Sambil membalikan badan,
seseorang misterius itu tiba-tiba kabur dan melepaskan tanganya. Disana tara
tercengang dengan jantung berdebar. Wajahnya semulamerah merekah, kini menjadi
pucat takberwarna. Tangannya pun masih merasakan sentuhan itu
“siapa tadi? Kok tiba-tiba ada seseorang disini, padahal
tembok pembatas tinggi begitu” ia bertanya dalam hati
Tara bertanya – Tanya dalam hati.
Seseosok manusia yang ia pikirkan, sudah menjadi banyangan makhluk halus. Tapi
ia takmenganggap berlebihan. Ia pun melangkah meski hujanteramat lebat.
Langkah tara pun berlanjut.
Tangannya menyilang seakan merasakan kedinginan. Baru beberapa langkah saja, ia
merasakan keanehan. Kepalanya takbasah!?, padahal daras hujan bertubi-tubi
membasahi bumi. Tara kali ini merinding, perasaanya tak enak
Lalu ia berusaha membalikan
badanya. Ia melihat seseorang tadi dengan payung ditangannya. Wajah orang itu
tak nampak, berkat jaket kulit berwarna hitam serta topi dengan warna yang
senada dengan jaket, melekat di badanya
“hay…!! Siapa kamu? Dari mana asal kamu?” ucap tara berontak
“sudah, lihatlah kedepan. Kan kau jumpai ibu dan bibimu”
Tara pun mengikuti perintah sosok tersebut. Namun tak ia
lihat ibu dan bibinya berdiri di depan
sana. Lalu ia mencoba bertanya lagi
“tapi kamu tuh si….” Tara terkejut setengah mati, orang itu kembali
menghilang.
******
Esoknya. Tara terjaga dari
kantuknya, dengan mata yang masih terkantuk ia melihat sosok ibunya. Ibu dengan
hati-hati meletakan nampan berisikan roti dan apel merah segar yang sduh
terbelah, di sebeleh ranjang.
“bu…”
“iya tara”memandang dengan senyum
“mana bibi ?”
“bibi? Mana ada bibi kesini. Ia kan sendang diluarkota” ucap
ibunya kebingungan
“lho kok gitu? Tapi kata orang itu…” ucap tara namun
terpotong
“kata orang? Siapa?
“kemarin ada orang
yang memayungiku hingga teras rumah, lalu pergi entah kemana”
“mana ada orang lain selain kamu di sini?” ucap ib seprti
naik darah
“tapi..”
“udah makan sana, ibu harus pergi kekantor”
Tara terdiam, mendengar ibunya sudah
menaikan nada bicaranya. Ia cemberut sambil menahan dagu dengan kedua tangannya.
Sedangkan ibunya sudah berkemas utuk berangkat ke kantor.
Ibu pergi. Tara kembali sendiri.
Kembali ia duduki ayunan bertali tambang. Mengulangi lagi tatapan kosong,
dengan tangan menggenggam tali. Kakinya belum mau menggerakan ayunan, tapi tiba-tiba saja ayunan bergerak sendiri. Tanpa
di gerakkan.
“biar ku ayunkan” ucap orang misterius itu
“kamu!! Lagi-lagi datang mendadak. Sebentar lagi juga kamu
menghilang”
“benarkah?”
“iya tau! Eh ngomong-ngomong kamu tuh siapadan kenapa pakai
baju serba hitam? Mau ngelayatya? Hahaha…” cerocos tara
“emangnya kamu harus tau”
“iya! Kamu kok judes amat” samba membalikan badan
“ya begitulah aku”
Suasan hening, tak bersuara.
Orang misterius itu masih menggerakkan ayunan. Tarapun masih menikmati ayunan
itu.
“mengapa diam? Oh iya nama kamu siapa?
“valhen”
“siapa?”
“ingat saja sendiri, tara”
“heyy !! bagaimana kamu tau siapa nama ku?”
Namun sebelum pertanyaan itu
terjawab. Sosok misterius itu sudah tak berada ditempat, dimana ia mengayunkan
ayunan untuk tara. Ayunanpun terhenti. Rasa penasaran yang begitu kuatdaridalam
diri tara membuat ia mencoba mencari manusia misterius itu. Ia mencari di
antara semak-semak, lalu dibelakang garasi hingga rela menaiki jenjang demi
jenjang anak tangga, untuk melihatkeadaan di balik tembok yang tingginya dua
meter itu.
“siapa sih kamu? Valhen…..” teriak tara menggema
Tara lalu, mengayunkan langkah
kedalam rumah, dan ia dapati sebuah foto tergeletak di lantai, meski ia tak
berfikir mengapa bisa terjatuh. Ia melihat seseorang dengan rambut agak
kriting berjangut tipis,mengenakan baju
warna biru dengan kata valhen bergaya font Algerian.
Oh hari yang berta bagi tara, ia merasa mual dengan kejadian
ini. Tentang si misterius dan valhen yang ia ucap. Tarapun rebah, terkapar di
lantai teras.
******
Belum sadar akan keadaan anaknya
kini, membuat ibu gelisah. Sambil berharap-harap cemas dan menunggu dokter yang
masih memeriksa keadaan fisik tara.
“anak ibu, Cuma kecapekan, saya beri resep ini. Silahkan ibu
membelinya di apotik”
“tapi dok, anak saya tak menglami penyakit mematikan?”
“ah, ibu mengada-ada saja. Tara hanya kecapekan saja serta
butuh istirahat”
Dokter pergi. Ibu segara membeli obat sesuai resep yang di
berikan dokter.
******
Tara terbangun, ia jumpai rumah
dengan keadaan kosong, kepalanya masih terasa pusing. Tara coba duduk dengan
menyandardi kepala kasur. Mencoba memandang bebas apa yang ada di balikjendela.
Lalu ia melihat seseorang duduk
di ayunan, lalu berdiri dan memutar badan,melangkah dan menghilang di balik
pohon. Ia seakan terkejut saat tara melihatnya.
Tara bangkit dari kasur dan segera keluar. Namun saying
langkah tara terhenti ketika ia sadar ada ibu di depannya.
“kamu mau kemana?”
“mengejar valhen bu, ia teman ku di…”
“tara !! dari man kamu tau valhen??”
“memangnya siapa itu valhen bu ??”
“bukan siapa-siapa”
“jujurlah bu, dia sosok misterius yang menemaniku
akhir-akhir ini”
“apa?”
******
“oh begitu jadinya, tragis sekali hidupnya”
“ya, dia dulu anak tiri ibu, ia kakakmu. Ia pernah ingin
membunuh ibu, ingin menusuk ibu”
“lalu apa hubunganya dengan baju yang bertuliskan valhen?!”
“baju itu ialah pemberian dari ibu kandungnya, pada acara
ulang tahun yang ke tujuh belas, karena sudah lam terletak dan warna nya sudah
mulai kusam. Ibu tak sengaja menjadikannya kain lap pel”
“lalu apa reaksi dia “
“dia marah, dia ambil pisau. Lalu ia mencobamenusukkan pisau
kearah ibu. Ayah tiba-tiba datang dan lalu menendangnya hingga terdorong.
Kepala nya terbentur kerasdi dinding”
“ia masih hidupkah bu?”
“kepalanya mengalami pendarahan hebat, darah keluar dengan cepat. Ayah panic, ibu pun panic tak
mau ayah masuk penjara. Dan kamisepakat menguburinya di bawah pohon itu.” Ibu
menunjuk pohon dimana tara berayun dengan kesunyian hatinya
“semoga ia tenag di alam sana. Ibu juga harus tenang, ia juga
tau. Ibu dan ayah tak salah dalam hal ini. Buktinya ia tak mengusik
ketenanganku, malah ia selalu menemaniku saat ibu tidak ada di sisi ku”
Tepat dimana hari ulang tahun si
misterius itu, ibu dan tara sengaja memanjatkan doa di tempat ia dukuburkan, di
bawah pohon yang dihiasi ayunan itu. Dan berharap semoga arawah nya diterima
disisi tuhan. Saat tara mulai pergi
menjauh dari pohon itu, ia mendapati si
misterius itu tersenyum.
Langganan:
Komentar (Atom)